INDONESIA dan Tibet memiliki hubungan spiritualitas dan budaya. Pada tahun 1012 Masehi, Atisha seorang biarawan Budhis dari India berkelana ke kepulauan nusantara. Setelah itu pergi ke Tibet untuk mengajarkan ajaran kuno meditasi Tong-Len yang dipelajarinya dari seorang guru nusantara bernama Dharmakirti Svarnadvipi, sebuah nama yang sangat dekat di hati Yang Mulia Dalai Lama dan masyarakat Tibet.

Guna menjalin kembali tali kebudayaan dan spiritualitas itu tokoh spiritual antaragama dari Indonesia Anand Krishna mempersembahkan patung Buddha terbuat dari batu setinggi 2,5 meter kepada Yang Mulia Tenzin Gyatso Dalai Lama ke-14, di Sarnath (Uttar Pradesh) India, belum lama ini. Patung Buddha ini dibuat dari batu yang sama untuk membangun Candi Borobudur pada abad ke-9 Masehi di Muntilan Jawa Tengah.

Persoalan lingkungan selalu ada, baik dalam skala global dengan gejala pemanasan global, maupun dalam skala yang lebih kecil, termasuk di Kota Solo. Terkait itu, Yayasan Marsudirini, Surakarta menghadirkan Anand Krishna dalam seminar Lingkungan Hidup di Bale Tawangarum, Sabtu (13/12). Berikut pemikiran Anand Krishna yang dirangkum oleh reporter Harian Joglosemar, Suhamdani.

Bagaimana Anda melihat kondisi lingkungan belakangan ini?
Saya melihat ada sesuatu yang tidak beres dalam negeri kita ini. Negara kita ibaratnya sedang bersedih. Dua minggu yang lalu saya baru saja dari Brazil, membahas mengenai global warming. Persoalan lingkungan dewasa ini dan ke depan lebih mengarah pada masalah air bersih.

Pergelaran Wayang Orang (WO) Sriwedari Sabtu malam lalu terasa lain. Lakon Kresna Dhuta tidak memunculkan kiprah seorang raja kerajaan Dwarawati menjadi utusan para Pandawa meminta kerajaan Astina. Justru yang muncul, Kresna membujuk Arjuna agar menghadapi kenyataan bahwa dalam peperangan tidak boleh mendua. Siapapun yang menjadi lawan di medan peperangan harus dihadapi, meski itu orang yang dihormati seperti kakeknya sendiri.

Itulah ilustrasi pergelaran WO Sriwedari yang malam itu digelar National Integration Movement (Gerakan Integrasi Nasional).

Lembaga swadaya masyarakat itu mengajak lapisan masyarakat Solo untuk kembali menikmati sajian pergelaran WO di Sriwedari yang selama ini menjadi ikon budaya Kota Solo. "Kami memang mencoba mengajak pelajar dan mahasiswa menengok wayang orang Sriwedari. Sebab satu kenyataan perjalanan wayang orang semakin terpuruk di tengah globalisasi budaya saat ini", ujar koordinator NIM Solo, Eri Imayani di sela-sela pentas.

Belajar dari abad ke-14, peran ulama dalam sebuah negara sangat diperlukan. Terutama untuk ikut membantu memikirkan permasalahan negeri. Untuk menghadapi permasalahan yang terjadi, pemerintah perlu mempertimbangkan pendapat ulama dalam mengambil keputusan. Hal itu diungkapkan menteri kebudayaan dan pariwisata (menbudpar) Jero Wacik, dalam kunjungannya ke situs pemandian kuno, Jolotundo, Trawas, kemarin (21/7).

"Belajar dari masa lalu, seorang resi sangat diperlukan para raja saat mengambil keputusan dalam sebuah kerajaan. Demikian halnya resi atau tokoh agama atau yang biasanya disebut ulama, sangat penting pendapatnya saat mengambil keputusan," ungkapnya kepada wartawan usai jamuan makan siang.

Trowulan - Satu dari prasasti kembar yang ditandatangani Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir Jero Wacik SE di permandian kuno Jolotundo, Trawas, Senin (21/7) lalu diusung ke One Earth Retreat Centre, Ciawi, Bogor. Di Mojokerto, prasasti budaya yang bertema tekad dan komitmen pemuda Indonesia ini dipasang di pelataran Pendopo Agung, Trowulan. Prasasti ini dibuat dalam bentuk sama, baik dari peletakannya maupun bentuk bangunannya.

National Integration Movement (NIM) bagian dari Yayasan Anand Ashram, sekaligus penggagas prasasti tersebut sengaja membuat kembar bentuknya. NW Suriastini, sekretaris Yayasan Anand Ashram mengungkapkan hali itu. Menurutnya, prasasti tersebut merupakan gambaran tekad pemuda untuk belajar dari budaya masa lalu, menuju masa depan yang lebih cemerlang.

Perjuangan antikekerasan - ahimsa - yang dihembuskan Mohandas Karamchand Gandhi mengambil bentuknya lagi awal Juni ini. Langit Jakarta memayungi ketika mimpi setiap anak bangsa akan dunia nirkekerasan dipasung lagi.

Semua media massa mewajahkan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang lewat suara, gambar, dan tulisan. Persis pada peringatan Hari Kelahiran Pancasila, sesama saudara sebangsa memulai perangnya.

JOGJA - Sejumlah korban kekerasan di Monas melakukan testimoni di Jogja. Mereka menceritakan peristiwa yang mereka alami itu. Harapan mereka, informasi ini disampaikan kepada masyarakat sehingga tahu yang sebenarnya terjadi.

"Kami keliling ke kota-kota seperti Bandung, Jogja, Surabaya dan Bali untuk bertemu kawan-kawan wartawan. Kami ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya, apa yang terjadi pada 1 Juni di Tugu Monas. Tolong ini disampaikan kepada masyarakat, agar mereka juga mengetahui," pinta Nino Graciano, salah seorang korban peristiwa Tugu Monas di University Center (UC) UGM kemarin.

<< Pertama < Sebelum [1 / 5] Berikut > Terakhir >>