Lingkungan dan Penghargaan

Lingkungan dan Penghargaan

Oleh Anand Krishna*

RADAR JOGJA, Thursday, 16 June 2011 10:15

Javier Bardem, seorang bintang asal Spanyol, mengatakan, ”Sebuah penghargaan tidak membuatmu menjadi seorang bintang yang baik.” (An award doesn't necessarily make you a better actor) Lalu, untuk apa mengejar sebuah penghargaan? Ya, mengejar….Karena, banyak di antara kita yang merasa belum menjadi cukup baik, bila belum mendapatkan penghargaan. Pertanda apakah ini?

Kurangnya Percaya Diri

Jika aku “menjadi” baik karena penghargaan yang kuterima, maka aku juga bisa menjadi tidak baik karena penghargaan yang tidak kuterima. Berarti, kebaikan diriku sepenuhnya tergantung pada penghargaan yang kuterima.

Penulis masyhur Tolstoy dan Mahatma Gandhi mempersembahkan seluruh hidup mereka untuk menyebarluaskan berita kasih dan damai -mereka tidak memperoleh penghargaan Nobel. Apakah komitmen mereka, kontibusi mereka, atau integritas mereka diragukan?

Bahkan, ada kalanya penghargaan tersebut diberikan kepada seorang yang belum membuktikan kontribusinya. Jadi penghargaan diberikan sebelum adanya hasil. Tahu kan maksud saya siapa? Permainan macam apa pula itu?

Ada kalanya…

Penghargaan Mematikan Kreativitas

Hampir semua penulis yang memperoleh penghargaan tertinggi untuk penulisan mereka, justru tidak mampu lagi menelurkan tulisan yang lebih baik. Kenapa? Karena, alam bawah sadarnya sudah meyakini bila dirinya sudah “berbuat yang terbaik”. Maka, ia diperbudak oleh keyakinannya sendiri, yang dalam hal ini justru mematikan kreativitasnya. Lalu, untuk apakah penghargaan? Sekadar untuk menghargai apa yang telah dibuatnya, atau untuk memotivasi dia untuk berbuat yang lebin baik?

Jika tujuannya sekadar untuk menghargai apa yang telah dibuatnya, maka, okay. Tapi, jika tujuannya adalah “juga” untuk memotivasi supaya si pembuat kebaikan berbuat yang lebih baik lagi, maka sorry, belum tentu!

Nah, sekarang bicara-bicara tentang penghargaan macam Kalpataru dan Adipura. Yang pertama untuk lingkungan, dan yang kedua untuk kebersihan kota. Adalah penting bagi pihak yang memberi penghargaan itu untuk merenungkan kembali tujuan pemberian penghargaan.

Untuk apa penghargaan-penghargaan tersebut diberikan? Untuk mengapresiasi apa yang sudah dilakukan, untuk memotivasi supaya yang bersangkutan dapat melakukan sesuatu yang lebih baik lagi di kemudian hari, atau untuk apa?

Jika penghargaan diberikan untuk sesuatu yang sudah dilakukan, maka selesailah percakapan kita di sini, dan sekarang juga. Jika penghargaan diberikan untuk sesuatu yang diharapkan di kemudian hari, maka kita boleh berargumentasi sejenak apakah hal itu efektif atau tidak. Adakah tujuan lain untuk memberi penghargaan? Khususnya dalam konteks lingkungan hidup, dan kebersihan kota. Adakah kriteria kita untuk memberi penghargaan-penghargaan tersebut sudah cukup cerdas dan cermat?

Pelestarian lingkungan hidup juga mesti dikaitkan dengan pencegahan terhadap kerusakan lingkungan. Kerusakan atau upaya-upaya pelestarian “kasat mata” yang dapat diukur, ditimbang, dan dinilai -rasanya belum cukup- untuk dijadikan kriteria bagi pemberian penghargaan. Kita mesti menemukan “factor utama” yang menyebabkan terjadinya kerusakan. Dan, faktor utama itu adalah “keserakahan” manusia. Selama manusia masih serakah -termasuk serakah untuk menerima penghargaan yang ada kalanya bisa diataur asal kenal orang yang tepat di atas sana- maka lingkungan akan tetap rusak, malah tambah rusak. Upaya-upaya tambal-sulam yang selama ini dilakukan tidak banyak membantu.

Rusaknya lingkungan adalah akibat dari rusaknya moral kita. Rusaknya lingkungan adalah hasil dari rusaknya nilai-nilai adat yang terlupakan. Leluhur kita menghormati lingkungan. Pohon beringin di tengah alun-alun di-“puja”, dimuliakan -kita menertawakan mereka, dan menyebutnya animis. Kita sama sekali tidak memahami maksud dan tujuan mereka menghormati, memuja, dan memuliakan pepohonan, bukit, gunung, sungai, laut, dan sebagainya.

Pun demikian dengan penghargaan untuk kebersihan kota. Kebersihan fisik kasat mata saja kiranya belum cukup untuk dijadikan standar bagi pemberian penghargaan. Bagaimana dengan “kebersihan” lembaga-lembaga dan institusi-institusi pelayanan masyarakat? Cukup bersihkah? Efisienkah? Puaskah warga kota dengan pelayanan yang diberikan? Adakah pajak yang dipungut dari masyarakat telah digunakan dengan baik?

Bagaimana pula dengan “kebersihan” mental, emosional, intelektual, dan moral para petugas yang semestinya melayani, tapi malah lebih sering menuntut untuk “dilayani”? Sebersih apapun kota-kota kita, bila “pelayan” kota masih kotor dan tidak bersih -maka sesungguhnya kota itu masih jauh dari impian kita akan kota-ideal atau Adipura.

Lalu, Apa yang Mesti Dilakukan? Atasi keserakahan manusia dengan mengembangkan kasih di dalam dirinya. Kembangkan kembali nilai-nilai luhur yang pernah tumbuh di dalam jiwa kita. Lihatlah wajah Gusti Allah di mana-mana, di Barat, di Timur, di Utara, dan di Selatan. Dengan jumlah mata-Nya yang tak terhitung, Ia sedang menyaksikan setiap perbuatan kita. Dengan jumlah telinga-Nya yang tak terhitung, Ia pun mendengar setiap gerakan pikiran kita. Kita bisa membodohi dan menipu sesama, tetapi tidak bisa membodohi dan menipu Dia. Dia Maha Menyaksikan dan Maha Mendengar…

Selama masih ada keserakahan di dalam diri, selama masih ada kekotoran di dalam jiwa maka lingkungan akan tetap rusak. Dan, sebersih apapun kota yang kita huni, kita tinggali, tidak dapat membahagiakan jiwa kita sendiri. Untuk itu tidak perlu menunggu pemberian Kalpataru, Adipura, atau penghargaan lain. Sesungguhnya sekarang dan saat ini juga kita dapat memberikan penghargaan kepada diri sendiri! Ketika keserakahan tergusur oleh kasih terhadap sesama dan kekotoran pikiran sirna maka kita boleh memberi penghargaan Kalpataru dan Adipura kepada diri sendiri. Dan, penghargaan itu dapat kita berikan setiap waktu, setiap hari, dari hari ke hari.

Kemudian, bila ada yang menghargai itu, dan memberi pula penghargaan lain kita terima, kita bersyukur. Tapi, kita tidak membutuhkannya untuk memotivasi diri. Seorang manusia ideal memotivasi dirinya sendiri. Ia tidak membutuhkan pemicu dari luar untuk menjadi baik, karena ia tahu bila kebaikan adalah baik.

*Humanis dan penulis lebih 140 buku (www.anandkrishna.org)

GANDHI dan BUNG KARNO

GANDHI dan BUNG KARNO

Oleh : Anand Krishna

Gandhi sering mengatakan bahwa hidupnya adalah pesannya. Dan, jika kita mempelajari hidupnya maka kita temukan 3 mutiara pesannya inti ajarannya: Satyagraha, Swadeshi, Ahimsa. Satyagraha. Terdiri dari dua kata ‘Satya berarti ‘kebenaran’, dan Agraha berarti ‘permintaan’. Namun, agraha bukan sekadar permintaan biasa. Ia adalah ‘permintaan demi dan bagi kebenaran, kebajikan dan keadilan’. Ia adalah ‘permintaan tanpa kompromi’ karena kebenaran tidak perlu berkompromi.

Dalam bahasa Bung Karno Sang Arsitek Negara Modern Republik Indonesia - ini adalah “Tekad yang Bulat”. Tekad yang bulat seperti juga Satyagraha - muncul dari keyakinan yang kuat dan tak tergoyahkan pada sesuatu. Slogan Bung Karno ‘Sekali Merdeka’ Tetap Merdeka’ adalah hasil dan wujud dari Tekad yang Bulat - Tekad yang Kuat.

Satyagraha Gandhi tidak lain dan tidak beda dari ‘Tekad yang Bulat’ Sukarno. Beda bahasa, beda ungkapan, beda idiom tapi intinya sama. Artinya sama. Dalam bahasa para leluhur kita, ini adalah ‘Ichhaa Shakti’ Will Power Kehendak yang kuat. Tanpa ‘will power’ kita tidak mampu berbuat sesuatu yang luar biasa.

Bung Karno mengatakan bahwa bisa saja kita membangun jembatan-jembatan kecil yang tidak berarti - tapi tidak bisa membangun pencakar langit tanpa tekad, tanpa kehendak yang kuat. Satyagraha dan kebulatan tekad bersumber dari Swadeshi (Produk) negeri sendiri. Demikian arti umum swadeshi. Tapi, lebih dari itu, swadeshi juga berarti kemampuan diri sendiri.

Dalam bahasa Bung Karno inilah Berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri. Atau, menjadi diri sendiri mandiri. Apa artinya? Berarti, mengenal potensi diri - dan memberdayakan diri (Self-empowerment). Dalam bahasa leluhur kita disebut ‘Gyana Shakti’ The Power of Knowledge, Intelligence, and Wisdom.

Mengenal diri berarti mengenal potensi diri dan sekaligus memberdayakan diri dan menambah apa yang kurang. Jadi, bukan sekadar mengenal diri secara pasif “Oh, bagaimanapun juga kita kan orang biasa”. Tidak. Mengenal diri berarti merealisasikan potensi diri sepenuhnya. Gandhi pun manusia biasa - Sukarno pun manusia biasa. Apa yang mereka capai - kita pun dapat mencapainya. Kenapa tidak?

Untuk itu alat yang disarankan dan dipakai oleh Gandhi adalah Ahimsa berarti, Tanpa kekerasan. Apa yang menjadi dasar dari azas ini? Bung Karno pernah menjelaskan kepada putranya, Guntur, yang saat itu masih remaja, ‘Tat Tvam Asi’. Dasarnya adalah bahwa, Aku adalah Kamu dan Kamu adalah Aku.

Adakah sesuatu yang membedakan manusia dari manusia? Kita sama-sama manusia - tinggal di planet Bumi yang sama. Di bawah langit yang sama pula. ‘One Earth, One Sky, One Humankind’ Satu Bumi, Satu Langit, Satu Umat Manusia. Jangankan pada sesama manusia kekerasan yang kita lakukan terhadap sesama makhluk hidup pun berdampak pada diri kita sendiri.

Kita memburu burung-burung tak bersalah. Mereka mati - ulat-ulat yang biasa menjadi makanan mereka bertumbuh, dan beranak-pinak secara bebas. Kemudian menjadi wabah dan menyerang ladang kita, bahkan badan kita. Ahimsa berarti Loving, Caring, and Sharing - Saling kasih-mengasihi, saling peduli dan saling berbagi.

Inilah ‘Gotong Royong’ dalam bahasa Bung Karno. Tanpa azas gotong royong - one for all, all for one - satu untuk semua, dan semua untuk satu - kita menjadi manusia-manusia picik, berpikiran sempit, dan hanya mementingkan diri saja. Dalam bahasa para leluhur, inilah Kriya Shakti atau The Power of Action. Berarti, bukan sekadar konsep atau filsafat, tetapi sesuatu yang bisa diaplikasikan. Sesuatu, yang justru mesti dipraktikkan.

Tiga mantra ini, Satyagraha, Swadeshi, dan Ahimsa, Tekad yang Bulat, Berdikari, dan Gotong Royong merupakan aji yang dapat menyelamatkan bangsa kita. Dan bukan sekadar bangsa kita tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia. Tiga Mantra inilah Penyelamat Dunia. Inilah Mesias, inilah Mahatma yang ditunggu-tunggu oleh dunia.

Untuk itu, kita mesti mulai mengaplikasikan mantra-mantra ini dalam hidup kita sendiri. Ya, mengaplikasikan! Mantra-mantra ini bukan untuk diucap, dan diulangi seperti burung beo. Mantra-mantra ini mesti dihidupi, dilakoni, dipraktikkan. Yakinlah Anda pun bisa menjadi Gandhi atau Bung Karno jika bertekad bulat, meyakini kemampuan diri, dan bahu-membahu saling membantu. Bukan saja Indonesia Baru tapi Dunia Baru ada di depan mata. Jadilah penyambung, kontributor bagi dunia baru itu. Jadilah warga dunia baru itu. Anda bisa! q - o. (2842-2011).

*) Anand Krishna, pemerhati masalah, sosial, humanis, dan penulis lebih dari 140 buku.

Sumber :

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=238248&actmenu=39

INDONESIA dan Tibet memiliki hubungan spiritualitas dan budaya. Pada tahun 1012 Masehi, Atisha seorang biarawan Budhis dari India berkelana ke kepulauan nusantara. Setelah itu pergi ke Tibet untuk mengajarkan ajaran kuno meditasi Tong-Len yang dipelajarinya dari seorang guru nusantara bernama Dharmakirti Svarnadvipi, sebuah nama yang sangat dekat di hati Yang Mulia Dalai Lama dan masyarakat Tibet.

Guna menjalin kembali tali kebudayaan dan spiritualitas itu tokoh spiritual antaragama dari Indonesia Anand Krishna mempersembahkan patung Buddha terbuat dari batu setinggi 2,5 meter kepada Yang Mulia Tenzin Gyatso Dalai Lama ke-14, di Sarnath (Uttar Pradesh) India, belum lama ini. Patung Buddha ini dibuat dari batu yang sama untuk membangun Candi Borobudur pada abad ke-9 Masehi di Muntilan Jawa Tengah.

Persoalan lingkungan selalu ada, baik dalam skala global dengan gejala pemanasan global, maupun dalam skala yang lebih kecil, termasuk di Kota Solo. Terkait itu, Yayasan Marsudirini, Surakarta menghadirkan Anand Krishna dalam seminar Lingkungan Hidup di Bale Tawangarum, Sabtu (13/12). Berikut pemikiran Anand Krishna yang dirangkum oleh reporter Harian Joglosemar, Suhamdani.

Bagaimana Anda melihat kondisi lingkungan belakangan ini?
Saya melihat ada sesuatu yang tidak beres dalam negeri kita ini. Negara kita ibaratnya sedang bersedih. Dua minggu yang lalu saya baru saja dari Brazil, membahas mengenai global warming. Persoalan lingkungan dewasa ini dan ke depan lebih mengarah pada masalah air bersih.

Pergelaran Wayang Orang (WO) Sriwedari Sabtu malam lalu terasa lain. Lakon Kresna Dhuta tidak memunculkan kiprah seorang raja kerajaan Dwarawati menjadi utusan para Pandawa meminta kerajaan Astina. Justru yang muncul, Kresna membujuk Arjuna agar menghadapi kenyataan bahwa dalam peperangan tidak boleh mendua. Siapapun yang menjadi lawan di medan peperangan harus dihadapi, meski itu orang yang dihormati seperti kakeknya sendiri.

Itulah ilustrasi pergelaran WO Sriwedari yang malam itu digelar National Integration Movement (Gerakan Integrasi Nasional).

Lembaga swadaya masyarakat itu mengajak lapisan masyarakat Solo untuk kembali menikmati sajian pergelaran WO di Sriwedari yang selama ini menjadi ikon budaya Kota Solo. "Kami memang mencoba mengajak pelajar dan mahasiswa menengok wayang orang Sriwedari. Sebab satu kenyataan perjalanan wayang orang semakin terpuruk di tengah globalisasi budaya saat ini", ujar koordinator NIM Solo, Eri Imayani di sela-sela pentas.

Belajar dari abad ke-14, peran ulama dalam sebuah negara sangat diperlukan. Terutama untuk ikut membantu memikirkan permasalahan negeri. Untuk menghadapi permasalahan yang terjadi, pemerintah perlu mempertimbangkan pendapat ulama dalam mengambil keputusan. Hal itu diungkapkan menteri kebudayaan dan pariwisata (menbudpar) Jero Wacik, dalam kunjungannya ke situs pemandian kuno, Jolotundo, Trawas, kemarin (21/7).

"Belajar dari masa lalu, seorang resi sangat diperlukan para raja saat mengambil keputusan dalam sebuah kerajaan. Demikian halnya resi atau tokoh agama atau yang biasanya disebut ulama, sangat penting pendapatnya saat mengambil keputusan," ungkapnya kepada wartawan usai jamuan makan siang.

Trowulan - Satu dari prasasti kembar yang ditandatangani Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir Jero Wacik SE di permandian kuno Jolotundo, Trawas, Senin (21/7) lalu diusung ke One Earth Retreat Centre, Ciawi, Bogor. Di Mojokerto, prasasti budaya yang bertema tekad dan komitmen pemuda Indonesia ini dipasang di pelataran Pendopo Agung, Trowulan. Prasasti ini dibuat dalam bentuk sama, baik dari peletakannya maupun bentuk bangunannya.

National Integration Movement (NIM) bagian dari Yayasan Anand Ashram, sekaligus penggagas prasasti tersebut sengaja membuat kembar bentuknya. NW Suriastini, sekretaris Yayasan Anand Ashram mengungkapkan hali itu. Menurutnya, prasasti tersebut merupakan gambaran tekad pemuda untuk belajar dari budaya masa lalu, menuju masa depan yang lebih cemerlang.

<< Pertama < Sebelum [1 / 5] Berikut > Terakhir >>