3000 Pelajarpun Tertawa Bersama-sama
SOLO POS - Tertawa bukanlah pekerjaan yang sulit untuk dilakukan. Untuk tertawa orang tinggal membuka mulut, memperlihatkan gigi dan menarik pipi ke belakang dan mengeluarkan suara ha ha ha maka pekerjaan tertawa sudah selesai.
Meski mudah, untuk tertawa yang alami itu bukan hal yang mudah dan ada persyaratannya. Biasanya orang tertawa itu karena senang akan sesuatu, bahagia atas sesuatu, merasa ada yang lucu atas sesuatu.
Tetapi pada acara HINDARI NARKOBA DENGAN OLAH RAGA TAWA, yang digelar di GOR Diponegoro Sragen, Jumat (9/11) nampaknya persyaratan itu semua tidak berlaku. Sebab sekitar 3000 pelajar sekolah di Sragen yang berpartisipasi dalam kegiatan gagasan Anand Krishna Center ini tertawa bersama dalam waktu bersamaan. Tidak tahu apakah mereka sedang bersedih atau berbahagia, semua peserta yang ada di gedung itu tertawa bersama.
Dipandu oleh panitia, ribuan pelajar itu tertawa lebar hingga menimbulkan suara riuh. Sesaat, perasaan hati yang dibawa masing-masing peserta hilang dan tergantikan dengan tertawa. Kegiatan ini bukan tak disengaja. Salah seorang panitia acara, yang juga Sekretaris Yayasan Anand Ashram selaku penyelenggara, Suriastini mengatakan salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk menggugah masyarakat untuk tertawa. Sebab tertawa itu mempunyai dampak yang baik bagi manusia.
"Ini adalah alternatif untuk menggugah orang untuk tertawa karena kebaikannya banyak sekali" Kata dia disela-sela acara yang juga terselenggara atas kerja sama Pemkab Sragen dan National Integration Movement ( NIM).
Sementara itu (salah satu) ketua Anand Krishna Center (AKC) selaku penggagas acara, dr. Djoko Pramono MM mengatakan bahwa orang tertawa selama satu menit setara dengan kebaikan orang yang berolah raga ringan selam 20 menit. Selain itu pada saat tertawa akan muncul endogenous morphin (Endorphin) atau morphin yang dibuat oleh tubuh yang dapat mempengaruhi seseorang berperasaan senang.
Pada sisi lain maraknya kampanye /gerakan anti narkoba namun ternyata banyak kalangan pelajar yang belum tahu apa itu sebenarnya narkoba. Sehingga ank-anak ini justru tidak tahu apa yang harus mereka hindari. Hal ini diakui oleh Irwan Firmansyah Adiguna, Dinasty Angle Linggara, Insan Dermawan dan Irwan Adi S yang semuanya adalah siswa kelas VIII SMP N 2 Sragen.
Berikan komentar
* = harus diisi