Anand Krishna: "Satria Piningit" Itu Diri Kita Sendiri
Dunia kebatinan memang akrab bagi Anand Krishna. Lelaki berbadan gempal, tetapi sareh kalau bicara itu, memang dikenal sebagai tokoh meditasi. Dan pengetahuannya mengenai berbagai budaya serta agama, membuat lelaki asal Solo ini kemudian dikenal sebagai spiritualis, budayawan juga seorang nasionalis.
Dengan nada prihatin ia merasa jika negara kita seperti menjadi sapi perah bangsa lain. "Kita juga dibodohin," katanya serius. Dulu rempah yang dibawa penjajah, kemudian emas dan dalam tahun mendatang air bersih akan menjadi rebutan. Negeri kita dikelilingi air.
Ironi-ironi ini begitu menyesakkan dadanya. Di Papua, katanya menambang timah, tetapi yang dibawa emas. Dan fenomena itu barangkali juga terjadi di tempat lain, tanpa kita bisa apa-apa. "Seharusnya kita bisa," ucap Anand Krishna.
Di sela kesibukan, ia masih membina Yayasan Ashram yang sudah punya cabang di beberapa kota Jawa, Bali dan Sumatera. "Tetapi yang jadi perhatian saya sekarang adalah, isu global warming. Apapun kegiatan dunia, tetapi kalau tiba-tiba bahaya karena alam datang, mau apa kita?," kata penulis produktif yang mengaku harus hati-hati makan agar tidak makin bertambah gemuk. Karena itu saya senang Indonesia — khususnya Bali — yang bulan depan menjadi tuan rumah pertemuan membahas masalah tersebut dan penanggulangannya.
Lantas apa pandangannya terhadap lunturnya budaya kita? Mengapa ia juga sering mengupas Pancasila? Kepada Octo Lampito ia mengungkap panjang lebar di suatu siang, di sebuah toko buku.
Akhir-akhir ini anda banyak bicara 'menggugat' kemandirian bangsa. Sebenarnya apa yang terjadi?Saya hanya ingin mengingatkan sebelum terlambat. Jadilah bangsa yang mandiri, jangan terlalu bergantung asing lo!. Sekarang ini kita sudah dijajah asing, jadi bangkitlah!
Di era globalisasi, kita sudah tertinggal dengan negara serumpun. Dulu, Malaysia mengirim guru belajar di Indonesia. Namun sekarang ganti mahasiswa kita belajar ke Malaysia. Yang kita kirim ke Malaysia hanya TKW. Ironis 'kan!. Dulu Bung Karno selalu mengingatkan, awas neo kolonialis. Sekarang peringatan itu sudah terjadi.
Banyak perusahaan besar kita jadi milik orang asing. Perbankan sudah dikuasai asing. Atau yang paling dekat, ayam dari negeri kita, dimakan sendiri tapi keuntungan justru diambil negara lain. Hanya karena kita mau lebih keren kalau makan ayam di restoran mewah.
Kemudian air mineral, sumbernya air milik kita, dikemas pabrik orang Prancis dijual lagi ke bangsa kita. Jadi yang untung asing lagi 'kan!. Air sudah bukan milik kita. Di Jakarta air PAM malah akan dikelola orang asing. Sampai-sampai penataan parkir bandara saja akan dikelola Malaysia. Kondisi kita terpuruk. Kalau tak diatasi, kita akan menjadi jongos di negeri sendiri.
Jadi, apa yang harus kita lakukan?Pertama, berhentilah makan makanan produk asing. Misalnya makanlah masakan ayam produk bangsa kita sendiri, untungnya juga untuk kita sendiri. Bung Karno sudah mengajarkan Berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Di India, ada gerakan Swadesi, artinya saatnya kita harus mandiri.
Kita punya sumberdaya alam yang luar biasa. Mengapa tak diolah sendiri? Andai tak mampu, datangkan manajemen asing, dibayar saja. Tetapi bahan tetap dari Indonesia. Kita hentikan kran keuangan yang bocor. Karena banyak uang kita yang parkir di bank asing. Mungkin mereka bermata sipit yang memarkirkan uang di Cina, Bangkok dsb. Tetapi mereka toh tetap warga Indonesia 'kan!
Kemudian datangkan ahlinya dari asing, sambil kita berjalan. Kasih mereka target. Jadi Sumber Daya Alam (SDA) kita jangan dijual. Jangan jual pabrik kita ke asing. Juga dalam ahli pengolahan SDA misalnya, sembari kita belajar, kalau memang tidak punya ahlinya, mengapa tidak ambil saja dari asing.
Jangan merasa bisa. Kita ngurusi lumpur Sidoarjo saja nggak rampung-rampung. Padahal, penduduk semakin gelisah. Mereka telah kehilangan apapun.
Jerman menggunakan kincir angin untuk daya listrik, kemudian untuk pertanian. Indonesia juga punya matahari, angin, dan kekayaan alam yang berlimpah.
Pembicaraan terhenti sejenak, ketika sejumlah orang datang ingin mendengarkan dialog kami. Beberapa orang mengaku pembaca buku karya Anand Krishna, ada yang sengaja minta tandatangan di buku terbarunya berbahasa Inggris, 'Voice of Indonesia'.
Tapi toh semuanya bergantung kebijakan pemerintah. Apa yang bisa dilakukan rakyat?Rakyatlah yang harus berpartisipasi. Jangan terlalu menggantungkan pada pemerintah. Saya baru pulang dari pertemuan PBB di New York. Mereka menganjurkan kemana-mana, bahwa saatnyalah rakyat menggerakkan pemerintah. Kita harus mendesak pemerintah berperilaku seperti yang kita inginkan. Anak muda jangan hanya demo saja, berteriak-teriak tetapi tak memberi solusi. Kita perlu solusi.
Strategi apa yang bisa menyatukan kita?Budaya. Inilah yang bisa menyatukan ribuan pulau kita yang tersebar. Jangan biarkan politisi yang tak berkontribusi pada budaya kita. Tanpa ada perhatian itu, lupakan Nusantara sebab kita akan tinggal nama saja. Indonesia yang lemah, tapi menguntungkan pihak asing di luar. Dengan penyatuan budaya, penjajah takkan seenaknya di negeri kita. Kita masih punya sumber alam yang melimpah.
Kita butuh pemimpin, politisi, rakyat yang punya komitmen budaya. Apa kita mau dijajah lagi? Saya tak ingin budaya asing masuk mempengaruhi sinetron kita. Termasuk budaya Bollywood di sinetron Indonesia. Tunjukkan bahwa tradisi budaya kita bukan hanya tukang photo copy.
Bagi saya, budaya memang urusan bangsa. Karena itu saya setuju pernyataan Sri Sultan HB X, bahwa sebenarnya satria piningit itu ya diri kita sendiri. Bukan orang lain. Jadi semuanya bergantung pada keinginan kita untuk menjadikan akar budaya. Gotong royong misalnya, adalah budaya kita yang kini hampir hilang.
Anand kemudian terdiam sejenak. Gelang perak di tangan kanannya menarik perhatian: ada sejumlah simbol berbagai agama sebagai aksesorisnya. Saat ditanya apa maknanya, lelaki bercelana jeans ini tertawa. "Ah, bagi saya ini simbol semua agama menuju Tuhan. Sama-sama tujuan, jalannya berbeda," katanya.
Iapun lantas bertutur. Budaya kita juga berkonsep kesederhanaan. Kebiasaan kita masih sering meniru namun tak sesuai. Contohnya dalam berpakaian, di alam tropis mengapa kemana-mana harus pakai jas? Kebiasaan ini sampai tercium negara luar.
"Saya pernah ke Inggris, di sana ada perusahaan tekstil yang memproduksi wool termahal, ternyata pasar terbesarnya adalah Indonesia. Sehingga mereka khusus menciptakan tropical wool, bahannya campuran. Kita mungkin merasa bangga kalau bahan jasnya disebut wool. 'Kan aneh. Kenapa tidak pakai batik saja? Dingin, indah, sesuai iklim kita," ujarnya sembari tertawa.
Di beberapa forum anda berbicara mengupas Pancasila. Mengapa?.Sebenarnya ini berkait dengan budaya yang saya singgung tadi. Saya hanya sekaligus ingin meluruskan. Ketika diciptakan Pancasila, sebenarnya bukan untuk ideologi. Dalam memahami konsep Pancasila, saya setuju Ki Hajar Dewantara yang menyatakan, Pancasila itu adalah saripati budaya. Seluruh budaya unggulan Nusantara dikumpulkan, ketemulah 5 nilai yang sangat pas dengan budaya kita.
Jadi Pancasila bukan sekadar ideologi, sebab bisa berubah. Kalau maknanya dari akar budaya, Pancasila tak bisa diubah. Ketika kemudian muncul wacana jadi ideologi, itu kekeliruan besar. Seharusnya mengamalkan Pancasila adalah gerakan kultural. Pancasila dengan 5 butir tersebut bisa masuk melalui wayang, sinetron atau apa saja. Jangan seperti era Pak Harto yang melaksanakan Penataran P4, dan sebagainya, hanya di bibir saja.
Memang kendalanya adalah bagaimana bisa memasukkan Pancasila pada setiap segmen konsumsi generasi muda, dalam sinetron misalnya. Artinya, setiap tayangan sinetron memasukkan unsur-unsur Pancasila. Tentu dengan modal kepiawaian penyajinya. Untuk bisa disajikan anak-anak muda dengan tampilan yang ngepop.
Saya berpikir misalnya, mengapa wayang harus menggunakan Bahasa Jawa saja? Bukankah dalang menggunakan wacana 'bahasa Inggeris' atau paling tidak Bahasa Jawa.
Saya juga pernah memasukkan naskah buku Panitisatra. Ini murni Budaya Jawa, tetapi ternyata terus ditunda-tunda tak diterbitkan karena mungkin dianggap lokal, hingga kemudian kami terbitkan melalui penerbit koperasi buku di Bali. Inilah contoh-contoh kasus semacam itu.
Artinya sebagai gerakan yang menasional. Apa hubungannya dengan konsep nasionalisme kita?Konsep nasionalisme kita terinspirasi pada Bung Karno, bukan nasionalisme gaya Hitler. Kalau Hitler, nasional fasis bagi negeri sendiri, terserah yang lainnya. Sementara konsep Bung Karno adalah bagaimana dengan Pancasila kita bisa memberikan kontribusi kepada dunia dalam negeri dan internasional.
Tetapi terlepas apapun, yang perlu diperhatikan sekarang adalah global warming, soal parahnya lingkungan yang berbahaya bagi kehidupan kita semua di masa mendatang.
Ketika Sultan HB X pidato di pagelaran Kraton Yogyakarta, tidak akan mencalonkan lagi sebagai Gubernur DIY, mengagetkan. Pernyataan penting dikeluarkan Sri Sultan saat acara dengan Anda. Apa pernah ada pembicaraan sebelumnya?.Sama sekali tak ada pembicaraan apapun. Saya ketemu Sri Sultan HB X tak secara spesifik. Tetapi bagi saya, komitmen Sultan soal budaya harus dikedepankan, karena itu saya setuju kalau beliau jadi tokoh yang segera go nasional.
Anda termasuk penulis produktif. Berapa yang anda tulis? Ada yang paling berkesan?Sekarang saya sudah berhasil menulis 110 judul buku. Yang menggunakan bahas Inggris 3 buku. Tetapi yang dwi bahasa ada 5 judul. Bagi saya, semua yang saya tulisan berkesan. Yang best seller juga banyak.
Padahal ketika kecil, saya punya cita-cita menulis buku sendiri. Saya bayangkan, bahagianya bila nama saya tertulis di sampul buku tersebut. Eh, ternyata malah lebih dari 110 judul buku. Tetapi yang paling bagus? Rasanya semua apik. Namun yang sempurna, masih dalam pikiran saya.
Apa kiat menulis buku?Pertama, ketika menulis dekatlah komputer, siapkan kamus dan buku yang akan saya ulas. Kedua, jangan terlalu banyak membaca buku referensi. Ini akan berpengaruh terhadap tulisan. Memang, tak ada yang original total. Penulis biasanya terpengaruh pada pikiran atau buku referensi yang lain.
Saya terpengaruh banyak pikiran orang besar, tak berdasar buku apapun. Kebetulan sejak kecil saya suka membaca buku apapun. Kini, saya punya hobi baru. Keluar masuk tukang loak buku. Dalam pandangan saya, buku karya penulis lama sekitar tahun 1950-an Bahasa Inggrisnya lebih bagus ketimbang penulis sekarang.
Apa yang anda harapkan pada pemerintahan sekarang?Dulu, saya mendukung Pak SBY untuk jadi Presiden. Karena itu, saya berharap untuk mengurus negara ini jangan pedulikan bisikan dari manapun. Jangan berbuat hanya berorientasi Pilpres 2009. Pak SBY dipilih rakyat langsung, jadi yang berbuatlah untuk rakyat.
Dengarkan suara hati nurani. Bertindaklah tegas sesuai hati nurani. Tidak ada DPR yang akan impeach, sepanjang tindakan sesuai hati nurani, kebenaran dan untuk kemaslahatan rakyat. Jangan mengurusi hal yang remeh-remeh saja. Serahkan urusan tersebut menteri atau di bawahnya lagi. (Octo Lampito)-o
Sepakat! Rakyat di akar rumputlah yang musti bergiat membenahi tata kehidupan berbangsa sesuai amanah pembukaan UUD 1945. Jangan terlalu bergantung pada pemerintah di atas sana. Saatnya segenap elemen civil society mendesak para penggede berperilaku lebih bijak dan pro rakyat. Indonesia Jaya Sekarang!