Hilangnya Air Bersih
Persoalan lingkungan selalu ada, baik dalam skala global dengan gejala pemanasan global, maupun dalam skala yang lebih kecil, termasuk di Kota Solo. Terkait itu, Yayasan Marsudirini, Surakarta menghadirkan Anand Krishna dalam seminar Lingkungan Hidup di Bale Tawangarum, Sabtu (13/12). Berikut pemikiran Anand Krishna yang dirangkum oleh reporter Harian Joglosemar, Suhamdani.
Bagaimana Anda melihat kondisi lingkungan belakangan ini?
Saya melihat ada sesuatu yang tidak beres dalam negeri kita ini. Negara kita ibaratnya sedang bersedih. Dua minggu yang lalu saya baru saja dari Brazil, membahas mengenai global warming. Persoalan lingkungan dewasa ini dan ke depan lebih mengarah pada masalah air bersih.
Bagaimana sebenarnya kondisi air bersih secara umum?
Tahun 2050 kelak, diprediksikan semua negara di dunia akan kehilangan air bersih. Masalah lainnya yang mengancam adalah kondisi pangan kita. 10 tahun ke depan pangan kita akan menyusut cukup drastis, dan kita akan mengalami kekurangan pangan. Di tahun 2050 perkiraan jumlah penduduk akan menjadi sekitar 16 miliar. Kini dengan jumlah penduduk hanya enam miliar kita sudah kekurangan pangan. Maka tak ada cara lain selain kita menekan jumlah penduduk itu sendiri. Di seluruh dunia, hanya dua negara yang kaya, yaitu Brazil dan Indonesia. Namun kita tidak mampu mengelola potensi yang ada di diri kita.
Bagaimana penjelasannya?
Contohnya, dalam hal aneka jenis pohon dan sumber alam, Indonesia merupakan negara yang terkaya. Sayangnya, kekayaan itu bukannya diberdayakan, tapi justru dijadikan rebutan. Karena itu, saya harapkan supaya air jangan sampai dijadikan komditas. Seperti air mineral ini, kenapa harus dijadikan komoditas, apalagi dibuat oleh perusahaan dari luar negeri, Ini sebenarnya tidak boleh terjadi.
Sudah sedemikian parahkah kondisi air bersih di Indonesia?
Kita bisa lihat, lebar pulau ini ideal untuk menciptakan air bersih. Air laut dari beberapa arah menjalani filterisasi secara alamiah, sehinggga sumber-sumber air menjadi bersih airnya.
Jika diurai, bagaimana proses kerusakan lingkungan dan ancaman kerusakan air bersih?
Kerusakan lingkungan sifatnya jangka panjang. 40 tahun kita menebang pohon di Kalimantan baru terasa sekarang. Karena itu, langakah riil harus kita lakukan sejak awal. Aksi menanam pohon harus dimulai dari sekarang.
Dalam persoalan lingkungan, bagaimana air dapat digunakan untuk kepentingan yang lebih besar bagi manusia?
Saya punya satu contoh. Belum lama saya baru dari New York dalam acara pembahasan mengenai lingkungan hidup. Di sana, gedung setinggi 70 lantai tidak menggunakan pendingin AC (Air Conditioner). AC di sana dibikin alami, dengan memanfaatkan sirkulasi tampungan air hujan. Jadi temboknya dibikin double, dan di antara keduanya dibuatkan ruang sebagai resapan air. Jika hujan turun, air akan meresap ke bawah, lalu air disirkulasikan ke atas.
Sumber: Harian Joglosemar
Berikan komentar
* = harus diisi