Kebhinekaan Realitas Bangsa
YOGYAKARTA, KOMPAS - Kebhinekaan merupakan realitas bangsa yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Untuk mendorong terciptanya perdamaian dalam kehidupan Bangsa dan Negara. Kebhinekaan pun harus dimaknai masyarakat melalui pemahaman multikulturalisme dengan berlandaskan kekuatan spiritualitas.
Dalam dialog kebudayaan "Merajut Harkat dan Martabat Bangsa melalui Kebhinekaan" di Universitas Islam Negri Sunan Kali Jaga Yogyakarta, Selasa (4/3), spiritualis Anand Krishna mengungkapkan, dengan spiritualitas, perbedaan-perbedaan bisa hidup berdampingan secara damai.
Dalam kondisi yang berbeda–beda, justru kebudayaan nusantara-lah yang bisaa mempersatukan bangsa seperti gado–gado, semua sayur tetap dengan bentuknya masing – masing. "Yang mempersatukan adalah bumbu kacang" ucap Anand. Tidak seperti FRUIT PUNCH, yaitu mencampur semua buah untk dijadikan minuman baru.
PenuntunNamun tanpa spiritualitas, masyarakat akan sulit menerima dan saling memahami perbedaan yang ditemuinya. Agama juga harus mendasari politik, agar politik benar–benar mampu mencapai tujuan sucinya untuk kemaslahatan rakyat banyak. "Namun, institusi agama harus dipisahkan dari politik agar tidak terjadi politisasi terhadap agama" kata Anand mengingatkan.
Dalam dialog budaya tersebut dosen fakultas dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Hamim Ilyas mengemukakan saat ini kebhinekaan sendiri masih lebih banyak menjadi laknat dan belum bisa menjadi rahmat bagi bangsa Indonesia. Kebhinekaan belum dapat ditransformasikan dalam kehidupan multikulturalisme dalam kehidupan sehari–hari.
"Multikulturalisme yang sudah ada sejak dahulu masih masih sebatas realitas sosial dan belum menjadi ideologi. Hubungan antarkelompok masih terjadi saling hegemoni. Ketika multikultural sudah menjadi ideologi. Pola hubungannya pun semestinya bukan invasi lagi melainkan sudah memasuki era konvergensi" tutur Ilyas.
Ketika bertrasformasi, masyarakat tidak hanya sekedar tinggal bersama ( co-eksistence), tetapi juga salng memberdayakan (pro-eksistensi). Ayat-ayat suci yang dijadikan dasar-dasar spiritualitas dalam bertransformasi pun hendaknya tak hanya dibaca melalalui kitab suci semata. Namun bisa ditemukan dalam sejarah dan kehidupan sehari-hari.
Berikan komentar
* = harus diisi