Lakon Kresna Dhuta Memupuk Bela Negara

Pergelaran Wayang Orang (WO) Sriwedari Sabtu malam lalu terasa lain. Lakon Kresna Dhuta tidak memunculkan kiprah seorang raja kerajaan Dwarawati menjadi utusan para Pandawa meminta kerajaan Astina. Justru yang muncul, Kresna membujuk Arjuna agar menghadapi kenyataan bahwa dalam peperangan tidak boleh mendua. Siapapun yang menjadi lawan di medan peperangan harus dihadapi, meski itu orang yang dihormati seperti kakeknya sendiri.

Itulah ilustrasi pergelaran WO Sriwedari yang malam itu digelar National Integration Movement (Gerakan Integrasi Nasional).

Lembaga swadaya masyarakat itu mengajak lapisan masyarakat Solo untuk kembali menikmati sajian pergelaran WO di Sriwedari yang selama ini menjadi ikon budaya Kota Solo. "Kami memang mencoba mengajak pelajar dan mahasiswa menengok wayang orang Sriwedari. Sebab satu kenyataan perjalanan wayang orang semakin terpuruk di tengah globalisasi budaya saat ini", ujar koordinator NIM Solo, Eri Imayani di sela-sela pentas.

Utusan
Dalam pergelaran itu, memang NIM sengaja meminta lakon Kresna Dhuta lebih disarikan untuk mbabar (menjelaskan) pengabdian seorang kesatria dalam membela bangsa dan negara. Oleh sebab itu, sutradara Diwasa lebih menekankan pada ajaran Bagawat Gita tentang Darmaning Satria.

Tekad para Pandwa meminta Kresna untuk menjadi utusan (duta) meminta kembali kerajaan Astina yang dikuasai Duryudana bukan tidak beralasan. Karena tinggal Kresna yang layak menjadi utusan untuk menjalankan misi tersebut.

Peperangan tidak terelakkan ketika Duryudana bersikukuh mempertahankan Astina. Lalu dia memerintahkan sejumlah senopati untuk maju ke medan perang mengahadapi para kesatria Pandawa. Salah satunya yang maju sebagai panglima perang dari Astina adalah Bisma.

Menghadapi lawan Bisma, salah seorang kesatria Pandawa menjadi ragu. Sebab Bisma adalah kakeknya dan sangat sakti. Namun oleh Kresna diingatkan agar Arhuna kukuh dalam sikapnya sebagai seorang satria.

"Seorang satria harus tegas dalam bertindak. Siapapaun yang dihadapi di medan perang harus dilawan, tidak memandang apakah lawan itu saudara atau orang tua dan kakeknya sendiri. Di peperangan tidak ada lagi saudara tapi semuanya musuh", ujar Kresna saat mbabar darmaning satria kepada Arjuna sebagai bekal maju perang.

Dan peperangan memang tidak bisa dielakkan. Namun pada lakon itu Arjuna tidak langsung berhadapan dengan Prabu Bisma yang tidak lain adalah kakeknya sendiri. Pertempuran besar di antara keduanya baru terjadi saat lakon Bisma Gugur.

Ada 1 yang berkomentar

Kresna Dhuta memang seru, saya suka lakon itu. Salam.

Berikan komentar

* = harus diisi

:

:

:

:


4 + 2 =