Liputan Radar Mojokerto tentang Sarasehan Budaya

Radar Mojokerto pada Jumat 22 Februari 2008 memuat liputan tentang Sarasehan Budaya "Kembali ke Jati Diri Bangsa: Belajar dari Dinasti Majapahit". Beritanya sendiri bertajuk "Tolak Politisasi Agama"

Berikut kutipan lengkapnya.

Tolak Politisasi Agama

Mojokerto - Keberadaan agama yang kerap dijadikan alat untuk memuluskan kepentingan politik, memantik reaksi banyak kalangan. Salah satunya datang dari Anand Krishna, seorang spiritualis, nasionalis dan penulis produktif. Menurutnya, politisasi agama bisa menyebabkan runtuhnya sebuah negara.

Hal itu disampaikannya dalam sarasehan budaya bertajuk Kembali ke Jati Diri Bangsa, Belajar dari Dinasti Majapahit yang digelar di Pendapa Agung, Trowulan, kemarin. "Apakah kita akan membiarkan agama dipolitisasi?" kata Anand kepada audiens sebelum memaparkan dampak dari ulah tersebut.

Dikatakannya, keberadaan agama jauh lebih mulia. Sehingga, jika hanya dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat politikus-politikus, sangat tidak pantas. "Kita berkewajiban mengangkat agama ke tempat yang lebih tinggi dan mulia" ujarnya.

Agama Jangan Dipolitisasi

Mengingat mulianya agama, maka tidak bisa dibuat seenaknya untuk memuluskan kepentingan politik. Jika dibiarkan, ditegaskan Anand, Indonesia akan runtuh. Hal itu bisa dipelajari dari sejarah kerajaan di Aceh. Kerajaan yang lama berjaya, akhirnya runtuh karena politisasi agama. "Karena itu, jangan sampai agama dipolitisasi oleh politikus-politikus!" tandasnya.

Selain Anand, dalam sarasehan yang diselenggarakan National Integration Movement (NIM) bekerja sama dengan Taspen itu juga hadir narasumber seorang budayawan KPA Sumadi Kertonegoro. Materi yang disajikannya banyak memaparkan tentang sejarah di Indonesia. Tak hanya sarasehan, dalam kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan prasasti budaya. Di antaranya dilakukan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang diwakili Sulistyo Tirto Kusumo, Gubernur Jatim, sampai muspida setempat.

Menurut panitia, sarasehan ini dilatarbelakangi keprihatinan kondisi sekarang. Bangsa ini seolah kehilangan jati diri dan mengakibatkan terombang-ambing. Belum lagi harus menghadapi gerusan budaya dari luar. Untuk menumbuhkan semangat pengembalian jati diri terhadap budaya yang dimiliki, sarasehan itu melibatkan semua lapisan masyarakat. Mulai anak SD, TNI, Polri, hingga pemerintahan.

(abi/nk)

Ada 2 yang berkomentar

Tarsisius Nugroho Angkasa S.Pd pada 26 Feb 2008 | 03:26 pm
berkata:

Politisasi dan bisnisisasi agama ialah strategi tingkat tinggi untuk meraih kursi dan meraup keuntungan namun jelas tak berlandaskan nurani kemanusiaan. Mari mulai "memberantasnya" dari diri sendiri di lingkar pengaruh masing-masing :)

K. Mahendra pada 04 Mar 2008 | 10:03 am
berkata:

sarasehan yang bagus dan langka di Jaman sekarang, kegiatan tersebut Saya Harapkan menjadi Kalender tahunan, Sayang Publikasi sebelum acara dimulai kurang sekali,wejangan Dua Tokoh Tersebut (Sumadi dan Anand Krishna) Sangat berbobot dan bermakna sekali...., mereka amat peduli pada ajaran-ajaran luhur masa Lalu Nusantara....,

Berikan komentar

* = harus diisi

:

:

:

:


9 + 3 =