Sejumlah korban kekerasan Monas Jakarta 1 Juni lalu menyatakan, kerusuhan yang terjadi pada peringatan hari lahirnya Pancasila itu telah mencederai dasar negara itu. Bahkan kasus itu telah berkembang menjadi isu agama dan bukannya penghinaan terhadap Pancasila.

"Isu Agama justru dilontarkan sementara kekerasan terhadap Pancasila tidak diusut, bagaimana ini bisa terjadi," papar Nino Graciano, salah satu korban pemukulan dalam insiden Monas dalam testimoninya di University Centre (UC) UGM, Sabtu (14/6).

Tragedi Monumen Nasional (Monas) 1 Juni bukanlah isu agama, melainkan tindak kekerasan. National Integration Movement(NIM) menegaskan peristiwa tersebut merupakan penghinaan terhadap kedudukan Pancasila.

Pernyataan tersebut disampaikan NIM saat menggelar jumpa pers pada Sabtu (14/6) di University Center (UC) UGM. Nino Graciano, Ketua Divisi Humas NIM mengatakan, Kejadian 1 Juni di Monas murni tindak kekerasan. Isu agama yang belakangan beredar di masyarakat terkait penyerangan FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) tidak benar.

Yogya - kasus kekerasan yang terjadi di Tugu Monas, 1 Juni 2008 sama sekali bukan isu agama, tetapi penodaan terhadap landasan konstitusi negara, karena pada waktu itu Massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) berkumpul untuk memperingati hari lahirnya Pancasila. Tiba-tiba diserang oleh kelompok yang menamakan diri Front Pembela Islam (FPI).

Demikian testimoni Nino Craciano, salah seorang cucu Proklamator RI Ir. Soekarno, yang jadi korban kekerasan di Tugu Monas bersama korban lain, Ni Nyoman Oming dan Bernard di Ruang Yusticia, Lantai 2 Gedung University Center (UC) Unit II, UGM, Sabtu (14/6). Testimoni didepan para wartawan tersebut diselenggarakan National Integration Movement (NIM) atau Gerakan Integrasi Nasional.

Pembukaan Anand Krishna Centre

Dari Harian Kedaulatan Rakyat

SINDHUARJO: untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan cara hidup sehat secara holistik dan meditatif, yayasan Anand Ashram membuka Anand Krishna Centre di Perum Dayu Permai Ngaglik Sleman. Pembukaan dilakukan pada Selasa (4/3). Yayasan Anand Ashram sejak tahun 2006 berafiliasi dengan PBB. Menurut Sekretaris Anand Ashram, Suriastini, ada 4 bidang kegiatan Anand Krishna Centre. Bidang kesehatan Holistik dan Meditasi merupakan bidang kegiatan utama juga merupakan landasan tiga bidang lainnya, yakni pendidikan, kebangsaan dan sosial ekonomi.

Dari Harian Kompas

YOGYAKARTA, KOMPAS - Kebhinekaan merupakan realitas bangsa yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Untuk mendorong terciptanya perdamaian dalam kehidupan Bangsa dan Negara. Kebhinekaan pun harus dimaknai masyarakat melalui pemahaman multikulturalisme dengan berlandaskan kekuatan spiritualitas.

Dalam dialog kebudayaan "Merajut Harkat dan Martabat Bangsa melalui Kebhinekaan" di Universitas Islam Negri Sunan Kali Jaga Yogyakarta, Selasa (4/3), spiritualis Anand Krishna mengungkapkan, dengan spiritualitas, perbedaan-perbedaan bisa hidup berdampingan secara damai.

Dari Radar Jogja - Rabu 5 Maret 2008

SLEMAN - Anand Krishna Centre Jogja Solo Semarang (Joglo Semar) resmi dibuka di Perum Dayu Permai Sinduharjo, Ngaglik Sleman. Lokasi itu akan menjadi pusat kesehatan holistik dan meditasi, kantor National Integration Movement, kantor Koperasi Global Anand Krishna, dan Taman Bacaan Masyarakat Bende Mataram.

Peresmian Anand Krishna Centre itu dihadiri Bupati Sleman Ibnu Subiyanto, Ketua Karangtaruna DIJ GKR Pembayun, Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Condroyono, dan Kepala Dinas Kesehatan DIJ dr Bondan Agus Suryanto.

Dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu, 26 November 2007

Dunia kebatinan memang akrab bagi Anand Krishna. Lelaki berbadan gempal, tetapi sareh kalau bicara itu, memang dikenal sebagai tokoh meditasi. Dan pengetahuannya mengenai berbagai budaya serta agama, membuat lelaki asal Solo ini kemudian dikenal sebagai spiritualis, budayawan juga seorang nasionalis.

Dengan nada prihatin ia merasa jika negara kita seperti menjadi sapi perah bangsa lain. "Kita juga dibodohin," katanya serius. Dulu rempah yang dibawa penjajah, kemudian emas dan dalam tahun mendatang air bersih akan menjadi rebutan. Negeri kita dikelilingi air.

Ironi-ironi ini begitu menyesakkan dadanya. Di Papua, katanya menambang timah, tetapi yang dibawa emas. Dan fenomena itu barangkali juga terjadi di tempat lain, tanpa kita bisa apa-apa. "Seharusnya kita bisa," ucap Anand Krishna.