Perjuangan antikekerasan - ahimsa - yang dihembuskan Mohandas Karamchand Gandhi mengambil bentuknya lagi awal Juni ini. Langit Jakarta memayungi ketika mimpi setiap anak bangsa akan dunia nirkekerasan dipasung lagi.

Semua media massa mewajahkan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang lewat suara, gambar, dan tulisan. Persis pada peringatan Hari Kelahiran Pancasila, sesama saudara sebangsa memulai perangnya.

JOGJA - Sejumlah korban kekerasan di Monas melakukan testimoni di Jogja. Mereka menceritakan peristiwa yang mereka alami itu. Harapan mereka, informasi ini disampaikan kepada masyarakat sehingga tahu yang sebenarnya terjadi.

"Kami keliling ke kota-kota seperti Bandung, Jogja, Surabaya dan Bali untuk bertemu kawan-kawan wartawan. Kami ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya, apa yang terjadi pada 1 Juni di Tugu Monas. Tolong ini disampaikan kepada masyarakat, agar mereka juga mengetahui," pinta Nino Graciano, salah seorang korban peristiwa Tugu Monas di University Center (UC) UGM kemarin.

Sejumlah korban kekerasan Monas Jakarta 1 Juni lalu menyatakan, kerusuhan yang terjadi pada peringatan hari lahirnya Pancasila itu telah mencederai dasar negara itu. Bahkan kasus itu telah berkembang menjadi isu agama dan bukannya penghinaan terhadap Pancasila.

"Isu Agama justru dilontarkan sementara kekerasan terhadap Pancasila tidak diusut, bagaimana ini bisa terjadi," papar Nino Graciano, salah satu korban pemukulan dalam insiden Monas dalam testimoninya di University Centre (UC) UGM, Sabtu (14/6).

Tragedi Monumen Nasional (Monas) 1 Juni bukanlah isu agama, melainkan tindak kekerasan. National Integration Movement(NIM) menegaskan peristiwa tersebut merupakan penghinaan terhadap kedudukan Pancasila.

Pernyataan tersebut disampaikan NIM saat menggelar jumpa pers pada Sabtu (14/6) di University Center (UC) UGM. Nino Graciano, Ketua Divisi Humas NIM mengatakan, Kejadian 1 Juni di Monas murni tindak kekerasan. Isu agama yang belakangan beredar di masyarakat terkait penyerangan FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) tidak benar.

Yogya - kasus kekerasan yang terjadi di Tugu Monas, 1 Juni 2008 sama sekali bukan isu agama, tetapi penodaan terhadap landasan konstitusi negara, karena pada waktu itu Massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) berkumpul untuk memperingati hari lahirnya Pancasila. Tiba-tiba diserang oleh kelompok yang menamakan diri Front Pembela Islam (FPI).

Demikian testimoni Nino Craciano, salah seorang cucu Proklamator RI Ir. Soekarno, yang jadi korban kekerasan di Tugu Monas bersama korban lain, Ni Nyoman Oming dan Bernard di Ruang Yusticia, Lantai 2 Gedung University Center (UC) Unit II, UGM, Sabtu (14/6). Testimoni didepan para wartawan tersebut diselenggarakan National Integration Movement (NIM) atau Gerakan Integrasi Nasional.

Pembukaan Anand Krishna Centre

Dari Harian Kedaulatan Rakyat

SINDHUARJO: untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan cara hidup sehat secara holistik dan meditatif, yayasan Anand Ashram membuka Anand Krishna Centre di Perum Dayu Permai Ngaglik Sleman. Pembukaan dilakukan pada Selasa (4/3). Yayasan Anand Ashram sejak tahun 2006 berafiliasi dengan PBB. Menurut Sekretaris Anand Ashram, Suriastini, ada 4 bidang kegiatan Anand Krishna Centre. Bidang kesehatan Holistik dan Meditasi merupakan bidang kegiatan utama juga merupakan landasan tiga bidang lainnya, yakni pendidikan, kebangsaan dan sosial ekonomi.

Dari Harian Kompas

YOGYAKARTA, KOMPAS - Kebhinekaan merupakan realitas bangsa yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Untuk mendorong terciptanya perdamaian dalam kehidupan Bangsa dan Negara. Kebhinekaan pun harus dimaknai masyarakat melalui pemahaman multikulturalisme dengan berlandaskan kekuatan spiritualitas.

Dalam dialog kebudayaan "Merajut Harkat dan Martabat Bangsa melalui Kebhinekaan" di Universitas Islam Negri Sunan Kali Jaga Yogyakarta, Selasa (4/3), spiritualis Anand Krishna mengungkapkan, dengan spiritualitas, perbedaan-perbedaan bisa hidup berdampingan secara damai.