Dari Radar Jogja - Rabu 5 Maret 2008

SLEMAN - Anand Krishna Centre Jogja Solo Semarang (Joglo Semar) resmi dibuka di Perum Dayu Permai Sinduharjo, Ngaglik Sleman. Lokasi itu akan menjadi pusat kesehatan holistik dan meditasi, kantor National Integration Movement, kantor Koperasi Global Anand Krishna, dan Taman Bacaan Masyarakat Bende Mataram.

Peresmian Anand Krishna Centre itu dihadiri Bupati Sleman Ibnu Subiyanto, Ketua Karangtaruna DIJ GKR Pembayun, Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Condroyono, dan Kepala Dinas Kesehatan DIJ dr Bondan Agus Suryanto.

Dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu, 26 November 2007

Dunia kebatinan memang akrab bagi Anand Krishna. Lelaki berbadan gempal, tetapi sareh kalau bicara itu, memang dikenal sebagai tokoh meditasi. Dan pengetahuannya mengenai berbagai budaya serta agama, membuat lelaki asal Solo ini kemudian dikenal sebagai spiritualis, budayawan juga seorang nasionalis.

Dengan nada prihatin ia merasa jika negara kita seperti menjadi sapi perah bangsa lain. "Kita juga dibodohin," katanya serius. Dulu rempah yang dibawa penjajah, kemudian emas dan dalam tahun mendatang air bersih akan menjadi rebutan. Negeri kita dikelilingi air.

Ironi-ironi ini begitu menyesakkan dadanya. Di Papua, katanya menambang timah, tetapi yang dibawa emas. Dan fenomena itu barangkali juga terjadi di tempat lain, tanpa kita bisa apa-apa. "Seharusnya kita bisa," ucap Anand Krishna.

Surabaya - Sejarah nusantara tidak bisa dilepaskan dari Dinasti Majapahit. Belajar dari kejayaan dan kejatuhannya kita bisa memetik manfaat dalam mewujudkan kejayaan Bangsa Indonesia. Topik ini menjadi perbincangan menarik ketika dibahas dalam Sarasehan Budaya "Kembali ke Jati Diri Bangsa, Belajar dari Dinasti Majapahit" yang digelar unit kerohanian TASPEN bekerja sama dengan National Integration Movement.

Radar Mojokerto pada Jumat 22 Februari 2008 memuat liputan tentang Sarasehan Budaya "Kembali ke Jati Diri Bangsa: Belajar dari Dinasti Majapahit". Beritanya sendiri bertajuk "Tolak Politisasi Agama"

Berikut kutipan lengkapnya.

Tolak Politisasi Agama

Mojokerto - Keberadaan agama yang kerap dijadikan alat untuk memuluskan kepentingan politik, memantik reaksi banyak kalangan. Salah satunya datang dari Anand Krishna, seorang spiritualis, nasionalis dan penulis produktif. Menurutnya, politisasi agama bisa menyebabkan runtuhnya sebuah negara.

Pemkab Sragen Gelar Seminar Kesehatan Holistik

Solo Pos - Pemkab Sragen menggelar seminar sehari bertema "Kesehatan Holistik untuk Pengabdi", di aula sekretariat Daerah, Selasa (13/11).

Seminar dilaksanakan dalam rangka peringatan hari kesehatan Nasional. Dalam seminar ini, Pemkab menghadirkan Spiritualis Anand Krishna dan Direktur RSUD Sragen, dr Farid sebagai pembicara.

Anand Krishna diantaranya mengatakan manusia memerlukan ketenangan dalam mengambil keputusan. Manusia terlebih pengambil kebijaksanaan yang tidak tenang akan menghasilkan keputusan yang keliru. Sebaliknya, manusia yang memiliki ketenangan akan menghasilkan keputusan yang benar.

Kedaulatan Rakyat

SLEMAN - Indonesia makin terpuruk, jika tak diperbaharui sikap kita, tentu akan berakibat lebih buruk. "Saatnyalah kita berpikir untuk lebih mandiri," kata spiritualis dan budayawan Anand Krishna, dalam dialog sekaligus launching bukunya 'Voice of Indonesia', Minggu (11/11) di Gramedia Ambarrukmo Plaza.

Dalam acara yang dipandu oleh Ketua PWI Yogya Octo Lampito, Anand kemudian menunjuk contoh, adalah daging ayam dari negeri kita, dimakan masyarakat Indonesia, tetapi keuntungan justru untuk orang asing. "Aneh kan? Ini juga terjadi pada kasus Tembagapura, perusahaan air mineral, dan banyak sekali. Kita terlalu banyak berharap dari asing," katanya. Karenanya ia mengajak agar bangsa Indonesia punya sikap tegas untuk mandiri. "Jangan mau bergantung pada negara asing," katanya.

SOLO POS - Tertawa bukanlah pekerjaan yang sulit untuk dilakukan. Untuk tertawa orang tinggal membuka mulut, memperlihatkan gigi dan menarik pipi ke belakang dan mengeluarkan suara ha ha ha maka pekerjaan tertawa sudah selesai.

Meski mudah, untuk tertawa yang alami itu bukan hal yang mudah dan ada persyaratannya. Biasanya orang tertawa itu karena senang akan sesuatu, bahagia atas sesuatu, merasa ada yang lucu atas sesuatu.