Prasasti Budaya Diusung ke Bogor

Trowulan - Satu dari prasasti kembar yang ditandatangani Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir Jero Wacik SE di permandian kuno Jolotundo, Trawas, Senin (21/7) lalu diusung ke One Earth Retreat Centre, Ciawi, Bogor. Di Mojokerto, prasasti budaya yang bertema tekad dan komitmen pemuda Indonesia ini dipasang di pelataran Pendopo Agung, Trowulan. Prasasti ini dibuat dalam bentuk sama, baik dari peletakannya maupun bentuk bangunannya.

National Integration Movement (NIM) bagian dari Yayasan Anand Ashram, sekaligus penggagas prasasti tersebut sengaja membuat kembar bentuknya. NW Suriastini, sekretaris Yayasan Anand Ashram mengungkapkan hali itu. Menurutnya, prasasti tersebut merupakan gambaran tekad pemuda untuk belajar dari budaya masa lalu, menuju masa depan yang lebih cemerlang.

"Saat diletakkan di One Earth, akan dipasang dengan bentuk taman dan bangunan yang sama seperti di Pendopo Agung. Yang dibawa ke One Earth Bogor, prasasti yang ditandatangani Menbudpar waktu berkunjung di pemandian kuno Jolotundo, Trawas", ungkapnya kepada HARIAN BANGSA, kemarin (23/7).

Menurut Suriastini, penandatanganan prasasti itu pertama di Pendopo Agung, Trowulan, pada 21 Pebruari lalu dalam acara sarasehan budaya dengan tema kembali ke jatidiri bangsa. Dalam acara kerjasama antara Yayasan Anand Ashram dengan unit kerohanian PT Taspen itu, dihadiri beberapa tokoh spiritualis lintas agama dan pengarang produktif, Anand Krishna dan budayawan KPA Sumadi Kertonegoro

Sementara, Dewi Nirmala, anggota NIM Surabaya membenarkan hal itu. Menurut Dewi, prasasti tersebut merupakan simbol tekad generasi muda untuk mewujudkan Indonesia bersatu. Hal itu seperti yang tertulis dalam prasasti.

"Saya gembira. Prasasti itu, bisa mengingatkan siapa saja untuk mempertahankan tekad dan komitmen mewujudkan Indonesia bersatu. Kalau di Mojokerto dipasang di Pendopo Agung, saya pikir pas", katanya.

Seperti diketahui, dalam prasasti itu disebutkan tiga tekad persatuan yang diantaranya menjadikan budaya dan cinta kasih sebagai perekatnya, dan menerima kebhinnekaan karena sadar akan keikaan dibaliknya dan menyadari segemilang apapun masa lalu, masa depan lebih cemerlang.

Sumber: Harian Bangsa

Ada 1 yang berkomentar

yusron gagah pada 23 Sep 2009 | 10:41 am
berkata:

thankz nach atas artikelnya

Berikan komentar

* = harus diisi

:

:

:

:


7 + 7 =