Paparan Pembicara dan Diskusi dalam Sarasehan Budaya

Bagi yang tak sempat hadir dalam Sarasehan Budaya "Kembali ke Jati Diri Bangsa: Belajar dari Dinasti Majapahit" di Trowulan, 21 Februari, paparan dari pembicara dan diskusi/tanya jawab dapat disimak di sini.

Pembicara I
KPA Sumadi Kertonegoro pukul 10.15 – 10.55 WIB

Saya akan membacakan tulisan saya untuk acara sarasehan ini dengan judul Gadjah Mada sebuah Renungan kembali Ke Jati Diri Bangsa.

Sebelum itu marilah kita melihat sejarah dan sumbangsih Gadjah Mada terhadap Majapahit. Singosari adalah sebuah kerajaan yang lahir sebelum Majapahit, didirikan di daerah Tumapel oleh Ken Arok. Ken Arok mempunyai banyak Putra salah satunya Mahisa Cempaka. Salah satu Putri dari Mahisa Cempaka menikah dengan Raja Padjajaran dan lahirlah Raden wijaya sebagai pendiri Majapahit.

Saat itu Raja Singosari yang terahkir Kertanegara adalah seorang Muda yang Idealis dan pemberani. Untuk membendung kekuasaan Cina di Samudra Indonesia, beliau mengirimkan tentaranya dalam ekspedisi Pamalayu. Beberapa orang pejabat yang lama berkuasa yang tidak sepaham dengan gagasan tersebut dinonaktifkan dan dipindahkan ke Sumenep (madura) salah satunya Arya Wiraraja.

Hal ini memicu ketidakpuasan dan akhirnya tahun 1292 Kertanegara dan Singosari diruntuhkan oleh kerajaan Gelang-gelang dengan Rajanya Jayakatwang. Jayakatwang mendapat informasi dari Arya Wiraraja bahwa Istana Singosari sedang kosong karena banyak prajuritnya yang berlayar dengan Ekspedisi Pamalayu.

Raden wijaya salah seorang menantu dari Kertanegera kemudian memohon perlindungan dari Arya Wiraraja dan mendapatkan tanah di Hutan Tarik di Daerah Wilwatikta. Setelah berhasil menghancurkan armada pasukan Kubilai Khan dan Jayakatwang, beliau mendirikan Majapahit dan naik tahta dengan Gelar Sri Rajasa Amurwabhumi.

Kita akan memasuki Era Gadjah Mada. Pada jaman Jayanegara, Gadjah Mada mulai kariernya dengan pangkat bekel (pangkat terendah dalam keprajuritan), setelah beberapa kali menyelamatkan Jayanegara dari usaha kudeta, beliau diangkat menjadi Lurah Prajurit. Dan ahkirnya pada pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, Beliau mengantikan Patih Arya Tadah dan mengucapkan Sumpah Palapanya.

Tanggal 19 Desember 1959 Bung Karno di depan Mahasiswa UGM mengucapkan beberapa hal yang dapat diambil dari kepemimpinan Gadjah Mada : Setia kepada Negara kesatuan Republik Indonesia, Menyingkirkan Musuh dari Bumi Nusantara, setiap hari Rajin Mengolah diri.

Saat itu Bung Karno didampingi oleh Prof Purbotjaroko. Sumpah Palapa yang pernah diucapkan Gadjah Mada perlu kita maknai ulang dalam era masa kini, salah satunya dengan menghentikan segala bentuk Korupsi.

Pembicara II
Bapak Anand Krishna

Bung Karno pernah mengatakan Jangan Melupakan Sejarah (jasmerah). Pertanyaanya adalah apa yang membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia, apa yang bisa dibanggakan dari Indonesia.

Tahun lalu kita dilanda wabah Cheng ho, banyak media baik cetak maupun elektronik menampilkan berita tentang Cheng ho, seakan-akan 600 tahun yang lalu Cheng Ho datang ke majapahit dengan 300 junk untuk mengajarkan budaya pada kita. Hal itu tidak benar, kita sudah berbudaya jauh sebelum Cheng ho datang.

Saudara-saudara marilah kita memasuki terowongan waktu, 3000 tahun sebelum Masehi, atau tepatnya 5000 tahun yang lalu kepulauan kita disebut Swarna Dvipa, banyak dari pulaunya masih menyatu belum dipisahkan laut. Di atas kepulauan kita ada Pulau besar yang disebut Jambu Dvipa, karena di sana banyak jambunya, (jambu kluthuk bukan jambu air) maka disebut Jambu Dvipa. Antara kepulauan Jambu Dvipa dan Swarna Dvipa ada kepulauan yang disebut Astralaay yang sekarang dikenal dengan Australia. Astralaay diperintah oleh seorang Maha Raja Kuvera, beliau sangat kaya dan industri utamanya adalah persenjataan.

Kepulauan Svarna Dvipa adalah bemper bagi Astralaay. Bila Astralaay ingin mengekspor senjata agreementnya didapat dari negeri kita. Mau kemana senjata ini dijual dan untuk tujuan apa senjata ini dijual, negara mana yang membeli adalah hak prerogatif dari Svarna Dvipa. Maka Jambu Dvipa selalu menjalin hubungan baik dengan Svarna Dvipa.

Pada saat itu di Jambu Dvipa terjadi perang besar, Perang Bharatayudha yang melibatkan negara-negara dari seluruh dunia. Svarna Dvipa ikut mengirimkan salah satu putranya yang dikenal dengan Gathotkaca, Saat itu perang Bharata Yudha adalah perang teknologi tinggi, perang dengan nuklir. Maka Gathotkaca tidak mungin datang dengan bambu runcing. Saat itu pun kita sudah menguasai teknologi nuklir. Kita sudah menguasai teknologi dirgantara. Pesawat Gathotkaca dikenal dengan nama Wiman. Saat ini Nepal masih menggunakan Wiman sebagai nama maskapai udaranya.

Kita maju beberapa ribu tahun. Sriwijaya pada abad ke 8 sudah melakukan ekspor rempah-rempah ke manca negara. Sriwijaya adalah dinasti terlama di dunia berkuasa 800 tahun. Pusatnya di Sumatera, Palembang dan Jambi.

Angkor Watt dibangun oleh arsitek dari Sriwijaya. Dan tidak pernah ada pejabat yang berkepentingan untuk belajar sejarah. Ada yang tahu mengapa anak tangga di borobudur sangat tinggi, itu karena tinggi manusia Indonesia saat itu 12 feet. Di salah satu museum disimpan gigi dari buddha yang besarnya 2,5 kali manusia dewasa ini. Saat ini saja kita menciut karena kita melupakan jati diri kita.

Dari jaman Sriwijaya sampai Majapahit selama 13 abad kita selalu mengekspor rempah-rempah kita. Saat itu rempah-rempah harganya lebih mahal dari emas. Salah satu yang saya ketahui adalah pala.

Terdapat bukti di museum andalusia (Turki) bahwa jaman Khalifah ketiga Umar terdapat hubungan surat menyurat dengan Raja Sriwijaya. Saat itu Umar Bin Khatab menulis, anda adalah bangsa yang besar dan berbudaya, kami ingin belajar dari Anda. Umar bin Khatab ingin belajar dari Indonesia, sekarang kita belajar dari Arab.

Saat itu rakyat Sriwijaya beragama Buddha dan Rajanya beragama Islam dan tidak ada masalah. Apa yang menyebabkan Majapahit yang perkasa runtuh. Jawabannya adalah budaya, saat itu Majapahit sangat makmur dan pejabatnya mulai mapan, melupakan budaya. Dari jaman Hayam Wuruk sampai jaman hancurnya Majapahit tidak ada satu pun karya sastra yang bermutu.

Kejayaan Islam adalah ketika Islam membuka diri dengan pengetahuan dari dunia luar. Seorang Khalifah, Harun Al Rasyid memerintahkan untuk menerjemahkan naskah dari India dari seluruh penjuru dunia termasuk dari Indonesia. Dan setiap satu terjemahan dibayar dengan satu batang emas.

Islam sudah ada di Indonesia sejak abad ke 7 jaman Sriwijaya. Jadi saya menentang pendapat yang mengatakan Islam mulai masuk Indonesia sejak jaman Wali Songo. Keruntuhan di Majapahit disebabkan oleh politisasi agama, agama dipakai untuk tujuan poltik dan tujuannya untuk mengambil kekuasaan.

Aceh pernah mencapai kejayaan ketika diperintah oleh secara berturut-turut oleh 3 orang Sultana, 3 orang raja perempuan. Karena saat itu Sultana dari Aceh menolak menjual hasil buminya pada orang arab, maka ada fatwa dari arab bahwa tidak boleh ada pemimpin perempuan. Marilah kita letakkan agama pada porsi yang semestinya. Marilah kita berhenti untuk melakukan politisasi agama.

Sesion Tanya jawab pukul 11.15 – 12.30 WIB
Sesion pertama (30 menit)
  1. Bapak sugiharto (Universitas Islam Brawijaya)

    Majapahit tidak pernah bisa berdiri tanpa pendidikan. Oleh karena itu saya mohon dukungan bapak Anand Krishna untuk mendukung dibukanya Universitas Islam Brawijaya, Saya sudah mengajukan permohonan dan selama ini selalu ditolak. Dan kami sudah mempunyai mahasiswa sebanyak 350 orang. Terima kasih.

  2. Bapak Djati Kusumo (budayawan dari Malang)

    Beberapa tahun yang lalu saat kami datang ke Trowulan ini kami hanya bisa meneteskan air mata. Saat itu tahun 95 saat kami berkunjung ke Trowulan ada seorang anak kecil yang menuliskan sesuatu bagi kami. Bunyinya sebagai berikut Nak Kamu jangan bersedih Majapahit kedua akan berdiri. Dan kemegahannya akan melebihi Majapahit pertama.

    Tahun 1945 bung Karno dipanggil ke Vietnam oleh Panglima Perang Asia Timur Noruichi. Noruichi berkata pada Bung Karno, "Tuan, Tuan menyatakan kemerdekaan Indonesia, saya mau tanya wilayah Indonesia itu di mana." (saat itu wilayah Indonesia baru Jawa dan sebagian besar Pasundan karena bagian lain masih dikuasai Belanda) Jawab Bung Karno Wilayah Indonesia adalah bekas Wilayah Majapahit.

    Leluhur kita yang terakhir kali terbang adalah Empu Bharada, saat itu beliau dicatat dalam sebuah sebuah kitab sastra Gathotkaca Sraya, Empu Bharada menguasai satu teknologi yang bisa melebur logam dan memblendernya dengan besi, dan saat itu sudah menemukan sumber energi plutonium, lebih ramah lingkungan dibandingkan teknologi nuklir saat ini.

    Saat ini kami melakukan korespondensi (surat-menyurat) dengan seorang Rabbi Yahudi, dan beliau mengungkapkan bahwa saat Negara Indonesia bangkit maka tidak satu bangsa pun di dunia yang bisa menandingi keagungan dan kemegahannya. Dan tandanya adalah bila Ilmu pengetahuan yang diajarkan ditopang dengan Maya (spiritualitas)

    Pertanyaan kami adalah kita mulai dari mana Kebangkitan Indonesia ini?

  3. Popy Dharsono

    Baru-baru ini saya berkunjung ke Bali. Saya sangat terkesan dengan budaya yang ada di Bali, bagaimana masyarakat bali masih melestarikan budaya yang ada. Saat Indonesia dilanda krisis tahun 1998 hanya bali yang tidak terkena dampaknya. Nampaknya karena Bali melestarikan budayanya, masyarakatnya hidup selaras dengan alam, maka alam juga memberikan kesejahteraan pada masyarakatnya.


  4. Jawaban
    Bapak Anand Krishna
    • untuk penanya pertama Bapak Sugiharto yang menginginkan dukungan terhadap Universitas Islam Brawijaya, maaf Bapak saya tidak bisa membantu hal itu di luar kewenangan saya. Yang bisa kami lakukan hal ini akan kami titipkan pada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Bapak Darawacik.

      Tapi saya ada usul untuk Bapak Sugiharto, bagaimana kalau judulnya diganti dari Universitas Islam Brawijaya menjadi Universitas Islam, Katholik, Kristen, Hindu, Buddha, Khonghucu Brawijaya. Atau kalau mau yang lebih pendek Universitas Nasional Brawijaya.

    • Untuk penanya kedua Bapak Dharmokusumo, jawabannya dalam pakaian yang bapak kenakan (saat itu Pak Dharmo menggunakan peci dengan emblem merah putih, berbudaya pakaian daerah bali) Saya yakin Bapak Dharmokusumo sudah tahu jawabnya, beliau hanya memancing saya. Ha Ha Ha.

      Indonesia harus mulai menghargai budayanya, Kita mau meniru orang arab bagaimanapun kita tidak akan bisa menikah dengan orang arab. Perempuan kita bisa menikah dengan orang arab, tapi jangan harap laki-laki kita bisa menikah dengan wanita arab, meskipun kita sama islamnya.

      Begitu juga dengan orang India, meskipun sudah ratusan tahun hidup di India dalam pernikahan masih juga mencari orang keturunan India. Hanya di Indonesia, seorang Sunda bisa menikah dengan orang Bali. Orang jawa menikah dengan orang Batak.

      Budaya Indonesia adalah sebuah orkestra, saya bisa pinjam gitar dari orang barat tapi saya tidak bisa melupakan gamelan saya. Saya bisa pinjam gendang dari India tapi saya tidak bisa meninggalkan kecapi dan suling saya.

      Keberagaman adalah warna dasar kita, dan untuk itu dibutuhkan sesuatu yang dapat merekatkan kita semua dan itu adalah Pancasila. Darah campuran yang kita warisi membuat kita menjadi kuat. Ada tesis, anti tesa dan sintesis, lalu sintesis menjadi tesis lagi. Ketika Kristen lahir maka semua agama kuno dimusnahkan termasuk agama yahudfi, yunani dan romawi. Begitu juga ketika Islam masuk spanyol maka semua gereja dihancurkan. Hanya di Indonesia kita bisa melihat Buddha dipatungkan bersama Syiwa. Ada keserasian yang luar biasa di Indonesia ada harmoni antara pikiran dengan rasa.

    • Untuk penanya ketiga : Ibu Popy Dharsono

      memang saya merasakan budaya di Bali masih hidup. Tapi ada sesuatu yang saya rasakan Bali mulai menuju sesuatu yang mengkhawatirkan. Masyarakat Bali sudah mulai memuja materi.


    Sesion kedua (30 menit)
    • Penanya pertama : I Gusti Ngurah Rai

      nama saya sudah menunjukkan asal saya hampir selama ¾ umur saya habiskan di luar bali, baru ¼ umur terahkir saya saya mendiami bali kembali. Saya merasakan wajah budaya bali sudah mulai bopeng, dulu waktu saya masih kecil pintu-pintu rumah bali tidak pernah dikunci, sekarang hampir semua pintu dikunci. Dulu di Bali saya mandi telanjang bersama lawan jenis tidak ada masalah, tidak pernah terdengar adanya perkosaan, sekarang perkosaan di mana, sering ada terjadi perampokan di mana-mana.

      Pertanyaan saya apakah Bali sekarang sudah modern atau masih tradisional?

    • Penanya kedua : Supriyadi

      saya termasuk dalam Lembaga Desa Wisata Gadjah Mada. Selama ini saya berusaha untuk mengapresiasi budaya leluhu. Dan dalam web site kami sudah mulai meng up load budaya Majapahit. Hal ini sudah kami lakukan selama 2 tahun. Saya seorang Islam dan saya seorang yang moderat. Saya siap untuk menerima apa yang baik dari sumber lain. Pemikiran moderat inilah yang menurut saya perlu untuk dikembangkan. Dengan meneladani Gus Dur Dan Emha Ainun Nadjib.

    • Penanya ketiga : Agus

      saya membaca tentang Syeh Siti Jenar yang dimusuhi, saya mendapatkan kesan jadilah orang islam 100 % dan orang Jawa 100 %, saya membaca Romo Mangun dan beliau mengatakan jadilah orang katholik 100 % dan orang Indonesia 100 % . menurut saya apabila budaya kita jadikan penopang, budaya sebagai landasan maka agama bisa kita jadikan atap hidup kita. Maka hidup kita akan menjadi berkat.

      Pertanyaan saya selama ini budaya kita hilang ke mana, jati diri kita hilang ke mana?


    Jawaban
    Pembicara pertama : KPA Sumadi Kertonegoro

    Kita harus mengembangkan budaya kecerdasan. Banyak khasanah budaya kita yang hilang dan tidak lagi dipahami, dari khasanah itu hilang pula teknologi yang kita punyai di waktu lampau. Ada lima konsep pengembangan diri manusia yang saya pelajari dari Gadjah Mada. Hal ini saya rumuskan sebagai berikut:
    - Setiap hari kita melakukan olah jiwa, olah pikiran, olah rasa, olah raga secara teratur,
    - Dengan melakukan hal ini akan muncul kecerdasan intuisi dalam diri kita.

    •

    Menggunakan kecerdasan intusinya kita akan menggali potensi individu secara holistik. Hal ini akan membuat sebuah sinergi bagi individu tersebut dan melahirkan pemahaman terhadap masalah yang dihadapi dan menemukan pemecahannya.

    Pembicara kedua : Bapak Anand Krishna
    • Untuk penanya pertama : Bapak Ngurah Rai

      Saya juga merasakan sisi lain dari Bali yang mulai Konsumerisme, lambat laun setahap demi setahap gelombang konsumerisme ini menjadi besar. Contohnya adalah mega proyek di Legian, apabila hal ini dibiarkan maka akan melahirkan kerusakan yang besar bagi masyarakat Bali.

      Pengembang Di Legian Bali sudah mempunyai kasus dengan masyarakat Sidoarjo dan masyarakat Bali tidak menjatuhkan sanksi sosial bagi pengembang tersebut. Bahakan bupatinya juga mendukung mega proyek di Legian tersebut.

      Masyarakat Bali tidak punya kesetiakawanan sosial dengan masalah yang menimpa masyarakat Sidoarjo. Lihat saja Pembangunan belum dimulai sudah sering terjadi angin ribut di Kuta, dan apabila ini dibiarkan maka kuta akan ditutup dan ini akan berdampak pada image Bali di Mata Internasional.

      Pembangunan di Bali adalah pembangunan yang minimalis. Di barat pembangunannya adalah minimalis karena di sana harga barang-barang mahal. Bali tidak boleh membangun secara minimalis, untuk apa Bali mengimnpor barang-barang dari Barat, budaya dari barat yang menyebabkan rakyatnya kehilangan pekerjaan.

    • Untuk penanya kedua : Supriyadi

      Saya mendukung gerakan sadar wisata yang anda lakukan. Dan karena saya menghargai anda saya akan melakukan apa pun untuk membantu anda.

      ada hal yang perlu anda ingat tentang kata moderat. Anda perlu membaca buku The End of Faith karya Saint Harris. Semoderat-moderatnya orang dia akan tetap merasa bahwa agamanya paling unggul. Dia akan kembali pada jargon agamanya. Bila kita bertemu dengan masyarakat luas maka landasan kita adalah kebangsaan, kita tidak perlu bicara soal agama dengan masyarakat.

      Budaya bukanlah sebuah doktrin. Budaya tidak bisa diajarkan sebagai sebuah doktrin. Pancasila tidak bisa bahan Indoktrinasi, seperti yang dilakukan oleh Bung Karno. Pancasila juga tidak bisa dijadikan bahan penataran P 4 seperti yang dilakukan oleh Soeharto.

      Pancasila haruslah mewarnai setiap budaya kita, mewarnai setiap tingkah laku kita. Pancasila kita jadikan tolok ukur terhadap semua pengaruh dari luar. Apabila sesuai dengan Pancasila kita terima dan apabila tidak sesuai dengan Pancasila kita tolak.

    • Untuk penanya ketiga : bapak Agus

      Saya sudah 3 atau 4 kali ke Trowulan. Getaran-getaran yang saya terima setiap kali saya berkunjung ke trowulan adalah getaran anak yang murtad, anak yang berkhianat pada bapaknya, Raden Patah. Saat itu trowulan adalah sebuah ibu kota yang makmur, Trowulan menjadi makmur karena ekspor rempah-rempah ke luar negeri. Trowulan mempunyai tabungan-tabungan di luar negeri.

      Ketika Trowulan dijarah maka sebetulnya motifnya adalah murni ekonomi. Raden Patah menjadi korban konspirasi internasional.

      Trowulan dijarah bukan untuk menghancurkan patung-patung dan candi-candinya tapi untuk mencari Promisary Note (catatan tabungan Trowulan di luar negeri) yang sampai sekarang masih berlaku.

      VOC sampai sekarang masih berdiri, kantornya masih ada di Inggris, meskipun hanya sebesar Ruko. Tapi uang VOC masih berputar dan uangnya masih ditanamkan ke Bank-bank yang sampai sekarang masih beroperasi. Saudara-saudara sampai sekarang masih ada konspirasi Internasional yang ingin menguasai negara kita.

Ada 4 yang berkomentar

arya bayuangga pada 25 Feb 2008 | 12:09 am
berkata:

bagus namun sayang kenapa pangdam dan menteri tifak datang,mungkin bapak anand perlu memberikan waktu khusus untuk mereka agar mendapatkan pencerahan mulai dari jajaran DPR,MPR,Pres+wak,menteri 2,agar mereka semua tidak menjadikan hanya uang sebagai tujuan hidup bernegara

Renna pada 06 Apr 2008 | 12:24 am
berkata:

Saya menangkap "Majapahit kedua akan berjaya melebihi Majapahit pertama" merupakan kiasan yang harus diperjuangkan. Saat ini banyak masyarakat Indonesia yang sudah mulai kembali ke semangat spiritual. Sekolah-sekolah dasar mulai mengembangkan ajaran Ki Hajar Dewantara yang dikemas secara komersial sehingga dipersepsikan import dari Amerika. Saat ini saya sering menangis jika mengajarkan lagu-lagu kebangsaan dan lagu daerah untuk putri kecil kami yang beru duduk di kelas 1 sd. Rasanya tidak seperti saat saya SD yang bangga akan kondisi Indonesia kita. Mari kita benar-benar membangun Indonesia dengan budaya yang tinggi (penuh semangat spiritual yang bercerita banyak tentang keseimbangan lahir dan batin), bukan sekedar membangun dengan slogan-slogan kosong seperti yang terjadi saat ini. Semua over pr-ing /over publikasi. Dengan semangat kesadaran atas harkat manusia yang berbangsa.... saya yakin Insya Allah akan tercapai. Amien.

Stanley pada 27 May 2008 | 04:28 pm
berkata:

Saya hanya mau menambahkan. Setelah era reformasi ini kita melupakan Garuda Pancasila kita. Secera spiritual saya merasa Garuda adalah pelindung bagsa ini. Sekarang ini Naga sedang jaya dan memangsa. Dan yg bisa mengalahkan Naga adalah Garuda.
Mohon maaf bila ada kata tidak berkenan.

saya generasi muda. sudah 2 tahun ini konsen pada pencarian budaya ibu (lokal). yang ditemui adalah ketidak patuhan 'mpu' senior dalam mempresentasikan dirinya sebagai panutan tauladan. nurani yg ada di diri,selalu kalah oleh hawa nafsunya. itu yg membuat junior bingung. saya mengerti,lawan kita sangat pandai dan kompak serta menguasai ekonomi global. tapi bukan jadi alasan ilmu tafakur anda kepada sang Kuasa bisa dikalahkan. jgn menyalahkan disamping anda,jgn salahkan yg didepan anda,jelas mereka musuh anda,musuh kita semua.
kalau saya sebagai junior menitikan airmata atas keadaan pancasila saat ini, wajar,... karena kami ingin kemurnian. tapi airmata anda tak bisa melepaskan tanggung jawab anda dalam menunjukan yang benar. anda kami anggap sebagai 'mpu' kami,... mengapa semua statement yg terdengar semua seakan bukan berasal dari sesuatu yg penuh dengan tafakur,terhadap diri dan Yang Kuasa.
Tapi kami masih belum putus asa, menempatkan anda semua sebagai 'mpu-mpu' kami,... bertafakurlah se-murni2nya,... sampaikanlah cahaya yg anda temukan,jgn berupa pertengkaran. tapi sbg penerang kami untuk menyelamatkan bangsa ini. kita dalam perubahan... tapi jgn biarkan terlalu banyak korban atas perubahan itu.
tetap tersenyum pada apapun keadaan, karena itu yg membuat bangsa ini masih bisa bertahan...
hurip Indonesia, Nusantara seutuhnya.

Berikan komentar

* = harus diisi

:

:

:

:


4 + 5 =