Anand Krishna Pendiri Anand Ashram Foundation dan Anand Krishna Centre

Jangan melarikan diri, hadapilah kehidupan ini! Kata-kata bijak memang mudah diucapkan. Tetapi pada tahun 1991, saat bapak Anand Krishna masih berstatus sebagai pengusaha, pemilik pabrik garmen sedang menghadapi masalah, kesulitan, musibah, hal tersebut hanya kata-kata belaka dan kemudian terlupakanlah maknanya. Beliau pada saat itu, yang mewakili kita semua sering sekali lupa bahwa menunda masalah sama dengan melarikan diri. Bagaimanapun, kita harus menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Cerita bapak Anand Krishna berikut ini bisa Anda baca lebih detail dan lengkap di buku Soul Quest dan Meditasi & Neo Zen Reiki. Tetapi inilah kisah singkatnya bagaimana bapak Anand Krishna bertransformasi dari seorang pengusaha, pemilik pabrik menjadi seorang Aktivis Spiritual yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemanusiaan.

Bagi yang menganggap dunia ini adalah segalanya, bagi yang menganggap akan hidup selamanya, bagi yang menganggap kita akan baik-baik saja besok, bagi yang menganggap bahwa hidup ini terpisah dari kematian wajib membaca kisah nyata ini.

JATUH PINGSAN

Tahun 1991, di bulan Maret, bapak Anand Krishna sedang menggosok gigi di wastafel. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba terjadi black-out dan beliau terjatuh. Suara jatuh dari seseorang yang mempunyai berat lebih dari 90 kilo tersebut terdengar oleh anggota keluarga. Mereka membantu membangunkan dan kemudian melarikan ke rumah sakit.

Dokter mengatakan bahwa beliau terkena penyakit yang sangat serius. Ternyata Hb beliau, sel-sel darah merah yang mengalir dalam badan mengalami penurunan drastis, yaitu hanya 2.7. Normal pria sehat berkisar antara 14 s/d 16. Beliau tidak diperbolehkan pulang dan harus menginap.

Hb atau Hemoglobin merupakan suatu protein pada sel darah yang bertugas membawa oksigen ke dalam tubuh. Kalau tubuh kekurangan darah (Hb rendah) maka tubuh kekurangan oksigen yang bisa mengakibatkan gejala-gejala letih, malas, lemas, sesak napas, jantung berdebar, mual, wajah pucat, sistim kekebalan tubuh menurun, pingsan, hilangnya warna kulit aslinya.

Saat itu beliau tidak menanggapi serius karena berpikir mungkin karena banyak pekerjaan di kantor. Terakhir memang hampir setiap hari beliau bekerja sampai belasan jam, pulang ke rumah praktis untuk tidur saja. Ini karena beliau baru saja menanamkan banyak modal di industri baru yang merupakan impian beliau sejak dahulu. Karena menganggap remeh, beliau hanya menanggapinya dengan minum satu pil vitamin saja. Ternyata tidak bertahan lama dan akhirnya tumbang lagi.

LEUKIMIA (KANKER DARAH)

Kemudian beliau mendapatkan transfusi darah, Hb naik dan mulai merasa segar kembali. Kemudian dokter melakukan berbagai macam tes untuk mengetahui penyebab penyakit beliau. Rontgen, scanning dan tulang sumsum diambil dan diperiksa di lab. Dan, ternyata: Kanker Darah, Leukimia!

Leukimia atau Kanker Darah merupakan salah satu penyakit yang mematikan dan menakutkan. Sel-sel leukimia adalah sel tidak normal yang tertimbun di dalam sumsum tulang, bekerja menghancurkan dan mengganti sel-sel yang menghasilkan sel darah normal.

Sel-sel leukimia akan menyebabkan kerusakan organ penting dan membuat kondisi fisik lemah, suhu badan terus meningkat dalam waktu lama, sesak napas, gelisah atau takut, sulit tidur.

BERAPA LAMA LAGI BISA BERTAHAN HIDUP?

Tetapi herannya, bapak Anand Krishna tidak menanyakan tentang kesembuhan, tetapi “Saya masih dapat bertahan berapa lama?” Tentu Dokter tidak dapat menjawabnya, namun ia menyarankan transplasi sumsum harus segera dilakukan. Tetapi kondisi beliau saat itu cukup parah. Dalam waktu seminggu saja, Hb yang sudah naik karena transfusi darah mulai menurun kembali.

Pertanyaan “Saya dapat bertahan berapa lama?” Setelah direnungkan dan dalam subconscious (alam bawah sadar) beliau menyatakan bahwa sudah begitu jenuh dengan hidup dan sudah tidak ada keinginan lagi untuk hidup. Apabila masih ada keinginan untuk hidup, beliau pasti akan tanyakan cara penyembuhannya.

Pada saat itu, beliau tidak sadar akan pertanyaan tersebut. Setelah hampir 8 bulan berlalu, beliau mulai merenung kembali ternyata beliau sedang melarikan diri dari permasalahan yang sedang dihadapi. Kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari permasalahan yang sedang beliau hadapi.

Beliau kemudian mencoba berobat ke berbagai negara dan ke berbagai pengobatan alternatif untuk mencari kesembuhan secara instan.

Ironisnya, beliau selama belasan tahun memberikan ceramah tentang betapa sementaranya raga dan yang langgeng adalah jiwa, yang merupakan percikan Tuhan, Allah. Namun pada saat menghadapi penyakit, perbedaan antara raga dan jiwa sudah tidak ingat lagi. Anda boleh-boleh saja menyatakan diri Anda sebagai orang yang beriman, namun begitu jatuh sakit, begitu kena musibah, Anda pun lari kanan, lari kiri – cari dukun, cari orang pintar. Keyakinan kita belum sempurna – masih setengah-setengah.

PERGI KE INDIA MENEMUI SANG GURU

Di tengah kegelisahan tersebut, beliau kemudian teringat dengan Sri Sathya Sai Baba (23 November 1926 – 24 April 2011) yang merupakan Guru Spiritual beliau. Kebetulan beliau juga diberi kepercayaan untuk mengurus organisasi Yayasan Sri Sathya Sai sebagai Sekretaris Nasional. Sejak tahun 1973 beliau aktif di organisasi tersebut dan kemudian akhirnya mengundurkan diri tahun 1989.

Sri Sathya Sai Baba terkenal dengan mukjizat-mukjizatnya. Sai Baba sangat memahami kebutuhan-kebutuhan masyarakat bawah di India. Puluhan sekolah, politeknik, bahkan Perguruan Tinggi dan rumah sakit umum yang dibangun dan dikelola oleh organisasi Sai Baba tidak memungut biaya atau sangat minim sekali. Walaupun Sai Baba terkenal dengan mukjizat-mukjizatnya, tetapi ajarannya tentang cinta kasih membuat beliau tertarik. Karena kelahiran beliau di Solo, Jawa Tengah, telah mempertemukan beliau dengan begitu banyak mistik, yang dapat memperlihatkan mukjizat-mukjizat yang sangat mirip, bahkan melebihi Sai Baba. Jadi hal itu tidak begitu membuat beliau tertarik.

Sejak tahun 1981, apabila beliau menghadap Sai Baba, di antara ribuan pendatang, Sai Baba pasti mendatangi beliau dan bicara sepatah, dua patah kata. Tetapi kali ini, selama seminggu, dua minggu, ke mana Sai Baba pergi, mobil sewaan beliau membuntutinya. Sai Baba kali ini tidak menghampiri beliau.

Keadaan beliau semakin parah. Suhu badan sudah tidak pernah normal lagi, selalu di atas 38 derajat. Pada malam hari, beliau hampir tidak bisa tidur. Suhu badan sering mencapai 40. Kadang napas saya terasa sesak, kadang badan begitu lemah, benar-benar menderita.

Dan melihat penderitaan beliau, anak laki-laki beliau tidak dapat menahan diri. Begitu melihat Sai Baba menghampiri barisnya, ia berdiri dan menjelaskan bahwa ayahnya sedang sakit. Baba menoleh dan mengatakan kepada dia, “Ayahmu tidak sakit”.  Anak tersebut bingung, kemudian ia menceritakan kepada beliau tentang perkataan Sai Baba tersebut.

Beliau melihatnya sebagai pertanda dari Sang Guru bahwa penyakit beliau sudah disembuhkan. Hari itu pula, beliau berhenti makan obat dari dokter dan memutuskan kembali ke Indonesia setelah hampir satu bulan mengejar Sai Baba.

KEMBALI BISNIS DI JAKARTA

Banyak masalah menanti, stres kembali bermunculan. Perusahaan masih baru dan kredit yang sudah disetujui oleh bank pun, tidak kunjung turun. Karena pada saat itu lembaga-lembaga keuangan sedang memperlakukan tight money policy.

Tiba-tiba penyakit beliau muncul lagi semakin parah dan beliau sudah tidak tahan. Pada lapisan mental, pikiran beliau begitu kacau dan ingin lari dari permasalahan yang sedang dihadapi. Dan pada suatu pagi, beliau bangun dan begitu memuka mata tidak dapat melihat apa-apa – total black out. Tetapi setelah beberapa kali berkedip, penglihatan normal kembali. Tetapi setelah hari itu, penglihatan beliau sudah tidak normal lagi karena seperti ada kabut di depan mata beliau.

Sekarang dari lapisan mental, sudah menular ke lapisan fisik. Apabila tadinya mental beliau yang buat, sudah tidak dapat melihat jalan keluar dari permasalahan – sekarang secara fisik.

Oh Tuhan, apakah Tuhan itu ada?

Dosa, karma, percobaan? Entah berapa ratus, berapa ribu kali beliau pernah menggunakan kata-kata itu untuk menenangkan orang-orang yang sedang sakit, sedang kena musibah. Sekarang, beliau harus mendengar kata-kata yang sama dari orang lain. Kata-kata belaka! Beliau sudah jenuh dengan kata-kata seperti itu.

Dalam hati pernah terlintas pikiran untuk bunuh diri. Tetapi mungkin beliau tidak berani. Mungkin beliau masih terlalu sadar mengingat akan tanggung jawab terhadap pekerjaan, karyawan, keluarga, dll.

MELEPASKAN PERUSAHAAN/PABRIK

Karena harus masuk-keluar rumah sakit, perusahaan beliau kehilangan pimpinan. Kondisi kesehatan semakin kritis sampai harus satu bulan dirawat di rumah sakit. Akhirnya setelah introspeksi diri, beliau memutuskan untuk melepaskan perusahaan tersebut.

Agustus tahun 1991 beliau akhirnya melepaskan pabrik. Konsekuensinya, beliau juga harus melepaskan rumah yang sudah dijadikan jaminan bank lain. Pabrik diambil-alih oleh perusahaan yang disetujui oleh bank.

Hari itu, beliau seperti kehilangan jiwa. Sebuah impian berakhir.

KEMBALI MENEMUI SANG GURU

Dengan recehan berapa ratus dollar AS dikantong dan kartu-kartu kredit yang sudah tidak berlaku lagi karena tunggakan pembayaran selama berapa bulan terakhir, beliau berangkat ke India lagi untuk menemui Sang Guru.

Tetapi selama satu bulan, Sang Guru tetap diam. Beliau mulai menghakimi diri sendiri: Mungkin Sang Guru sedang menghukum beliau karena kesalahan-kesalahan, dosa-dosa beliau. Beliau harus menghadapi maut dan penderitaan yang berkepanjangan.

Beliau baru sadar betapa mengerikan maut itu!

Beliau merasa membodohi diri sendiri dan orang lain. Beliau sering keliling Indonesia dan entah berapa kali beliau memberi ceramah tentang kehidupan, kelahiran dan kematian – bahwa yang mati dan yang sakit itu hanya badan, bahwa jiwa itu kekal abadi dan tidak pernah menderita.

Ah, ternyata semua yang saya pelajari selama itu hanya menyentuh kulit saya saja. Saya begitu takut menghadapi maut!

BERTEMU DENGAN LAMA MISTERIUS

Akhirnya, setelah persis sebulan di tempat Baba, saya putuskan untuk meninggalkan tempat itu. Beliau ke kota Bangalore, masih di India Selatan.

Pada suatu hari dalam bulan November 1991, beliau mengunjungi suatu vihara dan di situ bertemu dengan seorang Lama, seorang Biksu (Bikku) dari Pegunungan Himalaya di Leh (Laddakh – India), yang kebetulan sedang mengunjungi Daratan India.

Beliau kemudian berbicara dengan Lama tersebut dan kemudian menerima undangannya untuk datang ke Leh. Perjalanan ke Leh hampir 3.000 kilometer dari tempat mereka sedang berada saat ini. Dan dengan Hb sekitar 4,7 – dalam keadaan sekarat – sehari setelah kepergian Lama tersebut – beliau menuju New Delhi dengan pesawat, untuk selanjutnya menempuh perjalanan panjang ke Himalaya.

TEMPAT YANG SANGAT INDAH UNTUK MATI

Sampai di Leh, ternyata harus menempuh lagi perjalanan kurang lebih 70-80 kilometer ke tempat tinggal Sang Lama dan memakan waktu 4-5 jam karena cuaca memuat jalannya rusak berat. Sakit, mual, kadang badan terasa panas-dingin – dalam keadaan sekarat, beliau tiba di tempat Sang Lama.

Aneh juga, Sang Lama berada di luar gerbang. “Ah, kau sudah tiba, selamat datang” katanya. Dalam hati, beliau bertanya bagaimana ia tahu akan kedatangan tersebut. Akhirnya Sang Lama mengantar beliau ke kamar kosong, kecil 2×2 meter sehingga bisa beristirahat.

Beliau dibangunkan sekitar 2 jam kemudian. Di atas meja tersedia chai – teh susu ala India, hangat dan makanan kecil.

Kau telah menemukan tempat yang paling tepat untuk mati” – demikian Sang Lama katakan. Beliau mungkin agak tersinggung waktu itu. “Untuk mati?” – dalam hati berpikir ,”Bukankah untuk menemukan kesehatan di sini?”.

Lama: Lihat Sungai Sindhu yang mengalir di depan kamu dan di sana pegunungan Himalaya dengan salju abadinya – tempat yang paling indah. Kau tidak akan dapat menemukan tempat yang lebih indah.

Anand Krishna: Memang tempat ini indah sekali, tetapi begitu jauh..

Lama: Ya, perjalanan memang jauh, melelahkan, tetapi keindahan memang tidak gampang diperoleh. Berhentilah melawan kematian. Kau belum pernah coba mati – kau belum punya pengalaman mati, setidaknya dalam hidupmu kali ini. Mungkin saja kematian itu lebih indah dari kehidupan.

Beliau tidak tahu, apa yang harus dikatakan.

Lama: Jangan melarikan diri dari kehidupan. Hadapilah segalanya dengan senyuman pada bibirmu. Kita selalu lupa bahwa kita bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri. Kita yang menciptakan masalah, kita pula yang harus menyelesaikannya.

Kata-kata tersebut tidak baru, beliau pernah mendengarkan sebelumnya di banyak buku. Tetapi cara yang Sang Lama sampaikan tersebut begitu langsung tanpa takut menyinggung perasaan beliau. Ia tidak berusaha menenangkan jiwa beliau. Ia menganjurkan bahwa beliau menatap Dewa Mau dengan mata yang terbuka.

Aneh, dalam sekejap beliau sadar bahwa selama ini beliau sedang melarikan diri. Selalu mencari-cari sandaran. Beliau kini tahu persis apa yang membuat beliau sakit selama ini. Beliau harus bertanggung jawab penuh terhadap kehidupan beliau sendiri, tidak ada bantuan dari luar. Tanpa asistensi dari siapa pun, beliau harus menghadapi segalanya seorang diri.

Dengan perubahan pandangan tersebut, tiba-tiba beliau menjadi kuat. Seolah-olah ada tenaga baru yang memasuki. Malam itu, beliau tidur pulas. Hampir setahun beliau tidak pernah tidur pulas.

“AKU” YANG BARU

Esoknya yang bangun pagi bukan beliau lagi. Yang bangun seorang “Aku” yang baru. Pohon-pohon di luar masih sama seperti hari sebelumnya, namun beliau sudah berubah. Kicauan burung-burung di atas pohon masih sama, namun beliau menemukan lagu baru dalam kicauan mereka. Beliau telah lahir kembali. Senang, Bahagia! Beliau telah bebas dari rasa takut.

“Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan. Jangan memendam emosi. Teriaklah sekuat tenagamu. Bebaskan dirimu dari sampah-sampah pikiran, emosi, amarah yang selama ini kau pendam. Keluarkan kegelisahanmu. Muntahkan kekhawatiranmu. Bebaskan dirimu dari rasa takut. Masuki alam meditasi, dalam alam itu ada kesehatan, ketenangan dan ketenteraman.”

Beliau masih ingat betul kata-kata Sang Lama. Ia juga menjelaskan bahwa meditasi itu hanya dapat terjadi apabila kita sudah membebaskan diri kita dari sampah-sampah pikiran yang kacau dan emosi yang terpendam.

Untuk memasuki alam meditasi, duduk hening, diam, tanpa gerakan tidak akan pernah membantu. Kita harus mulai dengan pembersihan diri secara aktif; setelah itu keheningan, ketenangan akan terjadi sendiri.

MENERIMA KEMATIAN DENGAN SENYUMAN

Sehari setelah tiba di Jakarta, sejak pertemuan beliau dengan Sang Lama, beliau kembali ke dokter dan memaksa untuk segera diopname. Tetapi beliau memaksa untuk diberi transfusi darah saja. Beliau memutuskan bahwa itu adalah transfusi terakhir, tidak akan juga kembali ke dokter dan ke rumah sakit.

Beliau butuh sedikit tenaga untuk menyelesaikan beberapa hal yang masih belum selesai seperti pengosongan rumah dan memindahkan keluarga ke tempat yang lain.

Sekarang, beliau siap menerima kematian, sebagaimana beliau menerima kehidupan. Kelahiran berada di luar kendali kita; kita tidak dapat memilih kelahiran. Tetapi kematian – beliau sadar bahwa beliau dapat memilih cara untuk menghadapi kematian, dengan senyuman di bibir atau dengan tangisan dan jeritan. Dengan penuh kesadaran, beliau memutuskan untuk memilih mati dengan senyuman di bibir.

Permohonan beliau hanya satu: Beri saya kekuatan, wahai Keberadaan – Tuhan, Allah, Buddha, Bhagavan – sehingga saya dapat mempertahankan senyuman ini, sampai ajal saya tiba!

SEMBUH SECARA AJAIB

Begitu beliau menerima kematian, beliau pun menjadi lega. Ketegangan hilang, kegelisahan lenyap. Tidak ada lagi rasa khawatir, tidak ada lagi rasa takut. Sekarang beliau siap menerima apa saja.

Tiga-empat hari setelah transfusi darah, pada suatu pagi beliau bangun sekitar jam 5 pagi. Begitu melihat jam, beliau baru sadar bahwa berarti malam sebelumnya beliau tidur. Beliau merasa begitu segar. Beliau heran! Selama hampir setahun, karena kondisi badan yang sangat menggelisahkan dan suhu badan yang naik terus pada malam hari, biasanya beliau baru bisa tidur sekitar jam tiga, jam empat pagi dan bangun sekitar jam 7 pagi.

Hari itu, beliau bangun jam 5 pagi dan dalam keadaan segar. Ah, bisa saja kebetulan – demikian pikir beliau. Tetapi hari esoknya, semakin segar. Lusa semakin segar.

Persis seminggu setelah transfusi, beliau ke dokter lagi untuk pemeriksaan rutin. Ajaib. Ternyata Hb meningkat menjadi 8. Dokter menanyakan penyebabnya. Sepintar, beliau menceritakan tentang meditasi dan perubahan pada sikap mental beliau.

Seminggu kemudian Hb naik lagi menjadi 12 sekian. Namun minggu berikutnya turun menjadi 11. Setelah beberapa kali pemeriksaan Hb beliau memang berkisar 11-12. Tidak bisa naik lagi, namun tidak juga mengkhawatirkan. Beliau sehat!

BERBAGI RASA

Sejak kesembuhan, perubahan sikap mental. Bapak Anand Krishna juga merubah pola hidup dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna, lebih mulia, bagi kepentingan orang banyak. Beliau ingin berbagi kesembuhan, ketenangan, kedamaian, kebahagiaan sejati melalui meditasi, melalui jalan ke dalam diri – Jalan yang belum pernah kita tempuh selama ini.

Latihan-latihan dan definisi tentang meditasi yang diajarkan berdasarkan pengalaman Bapak Anand Krishna dan disesuaikan dengan masyarakat modern.

Bagi yang ingin mencicipi latihan meditasi, kami mengundang Anda untuk datang ke Anand Ashram di Jakarta, Jogjakarta, Kuta Bali, dan Ubud Bali.

Klik Di Sini

Pin It on Pinterest

Share This