Minat Baca Menurun, Ancaman bagi Negara

Posted by on Nov 29, 2017 in Artikel Media, Berita, Media | 0 comments

Bapak Ke KR 28 November 2017

 

Minat Baca Menurun, Ancaman bagi Negara

 

YOGYA- Masalah pendidikan di Indonesia harus mampu menerawang 20 tahun ke depan, sejauh ini belum ada solusi terkait dengan pendidikan di Indonesia. Proses pendidikan harus dimulai dari yang paling dasar yakni taman kanak-kanak. Tetapi yang sekarang kita butuhkan adalah gerakan revolusi mental seperti yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. Dengan revolusi tersebut setidaknya mampu membangkitkan jiwa nasionalisme bangsa Indonesia.

“Yang dicanangkan Presiden Joko Widodo itu sudah betul. Tetapi sekarang harus ditemukan caranya agar revolusi mental itu berjalan,” ujar Anand Krishna ketika silaturahmi dengan Dirut PT BP Kedaulatan Rakyat, dr. Gun Nugroho Samawi, Senin (21/11). Dalam acara itu juga dihadiri, Komisaris Utama Drs. HM Romli, dan jajaran direksi lainnya.

Anand Krishna mengungkapkan, gerakan revolusi mental itu harus dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian masyarakat hingga guru sebagai pengajar. Karena dalam revolusi mental itu mestinya terkandung nilai-nilai yang natinya bisa dijadikan bekal untuk melakukan pembinaan karakter generasi penerus bangsa di negeri ini.

“Dalam proses pembentukan karakter itu kehadiran orangtua sangat penting dan mutlak dibutuhkan, dan guru harus hadir dalam kehidupan anak,” ujarnya. Salah satu poin penting yang tidak boleh ditinggalkan dari pembentukan karakter itu ialah keteladanan.

Anand mengatakan, bahwa terpenting untuk melahirkan generasi bangsa berkarakter Indonesia adalah pengendalian diri. Dalam konteks ini perlunya redefinisi terkait dengan kesuksesan seseorang. Ukuran sukses itu sebenarnya bukan karena punya mobil, tetapi datang dari kebahagiaan. Nilai kebahagiaan itu yang kita munculkan, hidup tenang bukan karena uang, jelasnya. Lelaki 61 tahun itu mengungkapkan kegelisahannya jika kondisi sekarang ini minat baca terus mengalami penurunan. “Ketika minat baca buku terus menurun, sebenarnya jadi ancaman besar bagi bangsa kita,” ujarnya.

Oleh karena itu ketika bangsa ini selama 20 tahun hanya patuh dengan teknologi berimbas kurang baik. Karena generasi yang ketergantungan dengan teknologi sangat sulit untuk mengembangkan diri, termasuk olah pikirnya. Dalam kondisi seperti sekarang ini mesti ada perimbangan menempatkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Pin It on Pinterest

Share This