Simposium Budaya Nilai Luhur Warga Bumi

Posted by on Sep 10, 2018 in Home | 0 comments

9

 

Simposium Budaya Yogyakarta, 1 September 2018 – Dalam rangka Perayaan Hari Bhakti Ibu Pertiwi yang ke-14, Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) beserta seluruh sayapnya, bekerjasama dengan Pemerintah Daerah DIY, BUMN dan didukung oleh pihak swasta, menyelenggarakan Simposium Budaya bertema “Nilai-nilai Luhur Warga Bumi – Harapan bagi Masa Depan Manusia”. Dalam kesempatan ini Gubernur DI Yogyakarta dalam sambutannya menyampaikan “Untuk bisa mencapai kemenangan menghadapi godaan dan cobaan di zaman Kala-Tida yang diliputi situasi yang serba “tida-tida”—penuh was-was, keraguan, ketidakpastian, sarat rekayasa dan ketidak-jujuran, maraknya fitnah, ujaran kebencian, kebohongan publik, korupsi, dan kekerasan, salah satu solusinya adalah dengan tulus berpegang pada nilai-nilai luhur.”

2
Sebagaimana diungkapkan oleh humanis spiritual sekaligus pendiri dari Yayasan Anand Ashram, Anand Krishna menjelaskan bahwa “Nilai-nilai unggul dalam budaya-budaya kuno di seluruh dunia – bersumber dari satu induk yang sama. Bahkan kata Indigenous bagi Pribumi atau Warga Bumi, dalam bahasa Inggris yang berasal dari Latin pun merujuk pada (wilayah Peradaban) Indie, Indos, Hindie, Indus, Shin-tuh, Sindhu.” Lebih lanjut, Anand Krishna menjelaskan bahwa Peradaban Sindhu yang telah berumur setidaknya 8000-12000 tahun ini adalah satu-satunya peradaban dunia yang masih hidup dan berkembang sampai hari ini.

6
Hadir dalam simposium budaya kali ini adalah Dr. Wening Udasmoro M.Hum., D.E.A., Dr. Art-ong Jumsai na Ayudhya, Dr. Mital Makrand dan Angela Loraine Burrows yang mewakili warga bumi dari berbagai penjuru dunia. Masing-masing membahas nilai-nilai luhur indigenous warga bumi dari tradisi Indonesia, Asia Tenggara, India dan Barat yang bersifat universal. Diawali oleh Dr. Art-ong Jumsai na Ayudhya menyampaikan bahwa pendidikan sedari kecil sangatlah penting untuk dapat menumbuhkan kasih dalam diri. Hal serupa juga diungkapkan oleh Angela Loraine Burrows bahwa kata culture dimaknai dengan Character (Karakter), Unique (Unik), Love (Kasih), Truth (Kebenaran), Unity (Kesatuan), Respect (Saling Menghargai), Equality (Kesetaraan). Dr. Mital Makrand dan Ibu Wening Udasmoro M.Hum., D.E.A. mengutarakan dengan teknologi yang ada sekarang seharusnya dijadikan alat dan bukan manusia yang diperalat teknologi. Teknologi dipakai untuk memperkuat nilai – perdamaian serta saling mengasihi antar sesama, bukan menyebarkan ujaran kebencian. Dan sebagai garda terdepan untuk menaklukkan gempuran yang mengikis nilai-nilai luhur ini tidak ada lain adalah lewat pendidikan.

5
Simposium diikuti kurang lebih tiga ratus lima puluh orang kalangan lintas budaya, agama, lintas generasi dan berbagai latar belakang, mulai dari budayawan, pendidik, pelajar, seniman, komunitas-komunitas, mahasiswa dan LSM dari Yogyakarta, Jakarta, Bali, Lampung, Solo, Semarang, serta kota-kota lain di sekitar Jawa Tengah. Beberapa orang yang bertanya pada sesi tanya jawab semua sepakat bahwa kita membutuhkan pendidikan yang memungkinkan kita semua bisa belajar bersama, saling melengkapi dan pada akhirnya menerapkan semua yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari. Kita kembali mengingat nilai-nilai luhur budaya universal yang mengedepankan pendidikan kemanusiaan.

8

Pin It on Pinterest

Share This