Artikel Bapak Anand Krishna “Bagaimana Waktu Berubah”

Posted by on Oct 26, 2018 in Artikel | 0 comments

Artikel Bapak Anand Krishna yang di muat di Harian Kedaulatan Rakyat edisi Kamis 25 Oktober 2018

Artikel Bapak Anand Krishna KR Kamis 25 Oktober 2018

Bagaimana Waktu Berubah!

 Anand Krishna*

Cerita lama, well tidak lama-lama banget juga, baru 2 tahunan, tapi masih tetap relevan. Bahkan, saya yakin relevan sepanjang masa. Siapa yang tidak mengenal nama Arnold Schwarzenegger! Seorang aktor terkenal dari Hollywood, yang sempat menjadi Gubernur California dari tahun 2003 hingga 2011.

Lima tahun setelah tidak lagi menjabat sebagai Gubernur, ia memosting foto dirinya di medsos dalam posisi tidur di bawah patung perunggunya di depan Columbus Convention Center, Ohio, dengan judul: How times have changed – Bagaimana waktu telah berubah. Tidak ada penjelasan lain. Hanya foto dan judul.

Maka, Sebagian Freaks di antara netizen yang bertanggungjawab, langsung saja membuat cerita. Sangat kreatif! Kurang lebih begini ceritanya: Saat menjadi Gubernur California, Arnold meresmikan hotel dengan patungnya seperti di dalam gambar. Saat itu, manajemen hotel memberi tahu Arnold, “Hotel ini akan selalu menyediakan kamar untuk Anda – kapan saja!”

Namun, setelah tidak menjadi gubernur lagi, ketika ia datang ke hotel yang sama, manajemen hotel menolaknya dengan alasan bahwa semua kamar sudah teirisi. Maka, Arnold membeli sleeping bag – ada juga yang mengatakan ‘mengambil’ dari bagasi mobilnya – dan tidur di depan patung itu untuk menyampaikan pesannya: Bagaimana waktu telah berubah!

 

Dijadikan Renungan

Posting ulang dengan cerita bualan itu menjadi viral. Tanpa ada yang peduli untuk mencari tahu apa benar patung itu berada di depan hotel? Malah ada juga yang menambahkan, seolah Arnold sendiri yang menulis. Kira-kira begini: “Ketika saya berada di posisi penting, banyak yang memuji, menyanjung. Tapi, setelah tidak menduduki posisi itu, mereka pun melupakan saya. Sebab itu, janganlah sekali-kali percaya pada kedudukan, harta kekayaan, penampilan, atau apa saja yang Anda miliki. Tiada sesuatu yang bertahan di dunia ini.”

Memang posting bualan. Arnold hanya menulis judul, tiada penjelasan apa pun. Tapi, setelah membaca sekian banyak tambahan pada posting-nya. Ia juga tidak menyatakan semuanya itu hoax.

Dan, kiranya ia cukup berhasil. Para freaks, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ‘sinting’ – sesungguhnya menyampaikan sesuatu yang dapat menyembuhkan keedanan kita. Bualan mereka perlu dijadikan renungan. Ketika berada di posisi penting, sekian banyak penjilat yang akan mengerumuni Anda. Wajar. Mereka menginginkan sesuatu dari Anda. Ada gula berupa harta, maka ada juga semut-semut dalam wujud penjilat.

Janganlah sekali-kali memercayai mereka. Mereka bukanlah sahabat, bukan teman. Mereka justru menjauhkan Anda dari realita. Dan, realitas adalah: Apapun yang Anda miliki akan tertinggal di sini. Tiada sesuatu yang dapat Anda bawa ke alam lain.

Berbuat Baik

Keluarga, kerabat, mereka yang Anda cintai – semuanya paling menemani Anda sampai liang kubur tertutup rapi, atau jasad sudah diperabukan. Mereka yang berjanji ‘sehidup semati’ pun tidak akan masuk ke dalam liang kubur bersama Anda. Tiada yang mau dibakar hidup-hidup bersama jasad Anda.

Maka, sadarlah! Ketika kita berada di atas, hendaknya ketinggian tidak membuat kita lupa daratan. Kita tidak bisa berlama-lama berada di atas, apalagi untuk selamanya. Berbuatlah yang terbaik selagi masih berada di atas, selagi masih berkuasa, dan selagi masih bisa berbuat sesuatu yang bermakna bagi orang lain.

Di saat yang sama, bersiap-siaplah untuk perjalanan turun ke bawah. Setiap orang yang naik, sudah pasti turun juga. Demikianlah permainan hidup ini. Hendaknya kita belajar turun sendiri sebelum ada yang mendorong dan menjatuhkan kita.

Hal-hal yang sederhana, kita semua sudah sering mendengar, tapi selalu lupa. Setelah turun, atau jatuh pun kita tetap bernostalgia tentang ketinggian. Kita tidak mau menerima bahwa tiada suatu keadaan yang kekal dan abadi. Sebab itu, kita menciptakan kesengsaraan bagi diri kita sendiri.

Masih ingat kata legowo dalam bahasa Jawa? Saatnya kita melakoninya….

 

*Anand Krishna – Humanis Spiritual, Penulis lebih dari 170 buku, Pendiri Anand Ashram (www.anandkrishna.org)

Pin It on Pinterest

Share This