Artikel Bapak Anand Krishna “Kearifan Warga Bumi”


Artikel Bapak Anand Krishna yang di muat di Harian Kedaulatan Rakyat edisi Jumat 12 April 2019

 

 

Kearifan Warga Bumi

Entah kita suka atau tidak, entah kita terima atau tidak – adalah fakta bahwa kebanyakan dari kita masih menderita semacam inferiority complex, penyakit rendah diri. Svadeshi, menggunakan produk buatan kita sendiri, tetaplah menjadi slogan belaka.

Seorang pedagang eceran yang saya kenal memberitahu saya: “Tidak ada tuh namanya cinta produk dalam negeri, cinta produk lokal segala, semuanya perkara harga. Kalau selisih harganya sedikit, orang tetap saja membeli produk impor yang lebih mahal.”

“Walaupun saya tahu, produk impor tidak selalu lebih bagus daripada produk dalam negeri.” Dan, lalu dia berbisik, “asal Bapak tahu saja bahwa modal saya untuk barang impor lebih murah daripada produk lokal. Tetapi saya bisa menjualnya lebih mahal karena itu barang impor.”

 

Ekonomi
Nah, ini adalah rahasia umum. Tidak banyak, tetapi ada negara-negara yang akan membuang produk mereka dengan harga berapapun. Mereka memiliki kapasitas dan kemampuan produksi yang tak terbatas – mereka harus menjual produk-produk mereka. Harga tidak jadi masalah, karena mereka mengikuti model ekonomi yang sama sekali berbeda.

Tetapi, di sini kita tidak membicarakan ekonomi. Kita membicarakan tentang mentalitas timur kita, mind (gugusan pikiran dan perasaan) kita yang masih menderita penyakit rendah diri. Dan akan menerima apa pun yang diimpor tanpa mempertimbangkan kualitas dan faktor-faktor lainnya.

Adalah mind yang menderita penyakit rendah diri inilah yang menolak nilai keberagaman, kebhinekaan yang patut dilindungi – Bhinneka Tunggal Ika – dan memilih keseragaman.

Kita hidup di kawasan tropis keanekaragaman hayati yang tidak bisa ditemukan dimanapun. Kita adalah kepulauan terbesar di dunia denga lebih dari 17.000 pulau, di mana hanya 6.000 pulau yang dihuni, sisanya masih belum dieksplorasi.

Filosofi hidup kita, Bhinneka Tunggal Ika, yang seringkali diterjemahkan sebagai “Berbeda-beda tapi tetap satu”, tetapi sesungguhnya bermakna “Walaupun tampaknya berbeda-beda, tetapi sesungguhnya satu adanya”. Adalah hasil dari keanekaragaman hayati dari sumber daya alam, faktor geografis, dan kultural serta interaksi sosial kita dengan beberapa ras.

Bagi mereka yang tinggal di alam dengan sedikit sekali keanekaragaman hayati, keseragaman barangkali menjadi sebuah berkah. Mereka berbagi tanah yang sama, budaya yang sama atau mirip-mirip, dan tanaman yang terbatas. Demikian cara pandang mereka terhadap kehidupan dibentuk oleh keterbatasan alami seperti itu.

Poinnya adalah: apakah kita harus melupakan segala berkah yang diberikan Bunda Alam pada kita? Melupakan filosofi hidup kita, dan mengadopsi folosifo lain?

Sungguh menyedihkan mendengar ada di antara kita yang dilarang tinggal di satu tempat hanya karena kepercayaan yang dia anut berbeda dengan kita. Lain kali bisa jadi karena ia berasal dari pulau lain. Bentuk hidungnya berbeda dari kita. Mengapa mereka harus memiliki mata besar, mengapa mereka tidak bermata kecil? Mengapa warna kulit mereka berbeda dari kita?”

 

Kearifan

Sikap seperti ini tidak cocok dengan kita. Ini adalah penghinaan terhadap kearifan warga bumi, kebijaksanaan leluhur, kebijaksanaan nenek moyang kita. Tetapi ya, saya juga perlu mengingatkan bahwa ini hanyalah sebuah pendapat – pendapat pribadi saya. Anda boleh menganggapnya subjektif.

Pilihan ada di tangan Anda, di tangan saya, di tangan kita – jalan mana yang mau kita ikuti? Jalan kearifan Leluhur kita, atau…?

*Anand Krishna, Humanis Spiritual, Penulis lebih dari 170 buku, Pendiri Anand Ashram (www.anandkrishna.org)