Sarasehan Budaya Menuju Global Harmony

Posted by on Sep 3, 2014 in Berita, Event | 0 comments

Sarasehan Budaya, 1 September 2014, yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Bhakti Bagi Ibu Pertiwi yang ke-10 mengambil tema berkarya tanpa pamrih pribadi dan golongan. Menampilkan para pembicara seperti Prof. Marsono, Prof. Made Suastika dan Prof. Sri Rochana yang memaparkan mengenai budaya luhur kita yaitu bekerja tanpa pamrih dari sudut pandang profesi, serta kaitannya dengan budaya lokal dari masing-masing daerah tempat mereka tinggal.

Sentuhan detail panggung dan antusiasme peserta membuat acara ini menjadi terlihat megah dan luar biasa. Dan yang paling menonjol dalam sarasehan kali ini adalah pertemuan antara Jawa, Bali dan Sunda. Perpaduan yang apik dari para pembicara floor, Ibu Ari Wulandari yang mewakili UGM, Ki Demang dari Sunda Wiwitan dan Pak Yudhanegara yang mewakili para profesional mengutarakan pendapat mereka bahwa budaya tanpa pamrih masih sangat relevan untuk menjadi gaya hidup manusia modern saat ini.

Dalam acara tersebut juga menampilkan pentas seni drama yang bertema fragmen kegelisahan Arjuna di Medan perang Kurukshetra yang dipersembahkan oleh adik-adik dari One Earth School Bali. Cerita ini disuguhkan dengan didukung oleh visualisasi dan musik yang membuat sebagian besar peserta merasa terkesan.

Dan pada acara kali ini, selain sarasehan budaya, juga ada penganugerahan ambassador for global harmoy award kepada Prof. Ahmad Syafi’i Ma’arif yang dalam pidato singkatnya, beliau mengutarakan mimpinya “bahwa planet kita yang satu ini, hanya bisa bertahan lama kalau kita memang mau hidup bersaudara. Bersaudara dalam perbedaan dan berbeda dalam persaudaraan”. Beliau juga menambahkan bahwa bumi ini adalah milik semua, bukan hanya milik sebagian orang saja.

5_1 (2)

 

7_3

 

7_2

 

7

Pin It on Pinterest

Share This